Reflection

Bagaimana dengan mereka?

Suatu sore di tengah perjalanan menuju terminal Kalideres, sampailah yang laki-laki di sebuah lampu merah. Laki-laki itupun menengok ke kiri jalan. Tampak seorang wanita sedang duduk di trotoar jalan dan makan nasi bungkus dengan tangannya. Di dekat wanita itu terlihat anak kecil kira-kira usia 1 tahunan, sibuk dengan aqua gelas yang masih tersisa setengah isinya. Wanita itu tampak asik makan tanpa perduli orang-orang melihatnya atau memperhatikannya. Dunianya hanya milik dia sendiri. Anak kecil tadi lebih tidak peduli lagi dengan apapun, dia hanya berdiri, lalu jatuh, berdiri lagi, lalu jatuh lagi sambil tetap berusaha memegang aqua gelas yang tinggal setengahnya itu. Sesekali wanita itu tampak memegang anak itu dan menyuapinya makanan. Oya, anak dan wanita itu tidak memakai alas kaki, dan anak itu tidak memakai celana.

Selama melihat hal tersebut, laki-laki tersebut merenung, mengapa seorang anak harus merasakan betapa pedihnya kehidupan di usianya yang sangat kecil. Tidak ada sandal yang berbunyi yang menarik, tidak ada mainan yang warna-warni yang menyenangkan, tidak ada makanan yang enak-enak, tidak ada, serba tidak ada…. Lalu,

Tet-tet, bunyi klakson membuyarkan lamunan dan akhirnya ayah sang lelaki menginjak gas motornya karena lampu lalu lintas telah berubah hijau.

Sebuah kisah nyata yang gua alami kemaren, waktu akan ke kalideres. Kejadian yang agak menyayat hati di tengah bangsa yang punya berjuta-juta kekayaan alam.

-Monday, March 23, 2009 at 11:55pm-

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s