Fictionary

Kini Aku Hanya Pelengkap Penderita…

Hari ini hujan dan aku berdiri di pinggir jalan perempatan pancoran. Mobil makin ramai saja tiap hari. Setiap hari jumlah kendaraan bertambah sampai 1117 kendaraan.

Di dekatku ada dua orang anak kecil asik bermain dengan ukulelenya menanti mobil-mobil berhenti. Wah, mobil-mobil mulai berhenti. Kemacetan karena lampu merah telah dimulai. Anak-anak kecil tadi berlarian dari satu mobil ke mobil lainnya, memainkan ukulelenya sambil bernyanyi lagu yang kurang jelas karena mereka masih cadel. Setelah 100an detik, lampu lalu lintas berganti dari merah jadi hijau, dan orkes klakson yang tidak menyenangkan untuk telinga pun dimulai bila kendaraan yang di depan terlambat menancap gasnya.

Di sisi lain, terlihat jalan layang dengan angkuhnya berdiri, dan dilewati mobil-mobil yang tidak kena lampu merah. Jumlah mobil di Jakarta ini sudah sangat berbeda dari 20 tahun yang lalu. Saat itu jalan layang ini belum ada, semua mobil hanya ada di bawah, di tengah jalan juga masih ada rumput hijau tertanam. Sungguh menyejukkan.

Aku berdiri di sini sudah 35 tahun. Aku menjadi saksi bagaimana cepatnya pembangunan (GEDUNG BERTINGKAT) ibu kota Jakarta ini, bagaimana cepatnya pertumbuhan penduduk (MISKIN) di sini, bagaimana cepatnya pertumbuhan jumlah kendaraan (MEWAH) di sini, dan yang paling miris, aku juga melihat sendiri betapa kejamnya ibu kota Jakarta ini. Aku jadi ingat 35 tahun yang lalu aku menjadi kebanggaan Bung Karno dan rakyat Indonesia. Bung Karno kabarnya sampai rela menjual mobil demi membuat aku. Pak Edhi Sunarso juga begitu bangga begitu melihat aku berdiri kokoh di Pancoran ini. Tapi semua mulai berubah ketika tahun 1987 ada rencana pembangunan jalan layang yang berdiri di depanku sekarang, membuat orang tak mampu melihatku dengan jelas dari bawah. Apakah mereka sudah lupa padaku? Kini aku hanya jadi pelengkap penderita dari kemacetan kota Jakarta ini. Aku yakin dari kendaraan-kendaraan yang lalu lalang di hadapanku tidak banyak yang tahu siapa nama resmiku. Sungguh menyedihkan memang nasibku, tapi aku percaya. Aku percaya akan datang waktunya orang ingat lagi kepadaku dan bangga setiap lewat di depanku.

Aku rindu. Rindu saat keadaan Jakarta di hadapanku masih seperti ini


Aku di tahun 1960-an

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s