Reflection

Sebuah Kisah Klasik untuk Masa Depan

Sore hari yang cukup cerah. Sang langit tetap tak kenal lelah memandang ke bawah sejak bumi belum dapat bersuara. Pada sore ini sang langit memperhatikan sebuah titik di salah satu ujung dunia.
Pada titik itu, langit biru itu melihat sepasang anak kecil, laki-laki dan perempuan. Keduanya memakai baju yang jelas sekali sangat lusuh, badannya kotor tampak tak terawat. Yang perempuan terlihat lebih dewasa dari yang laki-laki. Mereka berlari menuju mobil angkutan kota yang berhenti karena lampu merah. Masuk dengan cepat ke dalam mobil, yang perempuan menginstruksikan “adiknya” untuk mulai bernyanyi sembari memberikan amplop-amplop mohon bantuan kepada para penumpang.

Langit biru tetap tidak melayangkan pandangannya dari kedua anak tersebut. “Adik” tetap diam dan tampak bingung. “Kakak” tampak kesal dan mengomeli “adiknya”. Beberapa penumpang mengembalikan amplopnya dengan sejumlah uang. Setelah amplop dikembalikan dan kelihatan kesal karena “adiknya” tidak juga mengeluarkan suara untuk bernyanyi, maka “kakak” memutuskan untuk turun. Sampai mereka turun tetap saja adiknya hanya tampak bingung.

Sang langit biru berpikir mengapa kisah klasik seperti itu masih dapat dilihatnya di bumi ini. Sebuah kisah klasik sulitnya mencari makanan di dunia ini yang dilakoni oleh para anak-anak yang akan menjadi penghuni masa depan

                                                                                                                               Kira-kira kapan ya anak-anak itu berhenti mengamen di jalanan?

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s