PIS (Psychology in Story)

Please…. Listen to Me

Langit masih membiarkan air matanya terus turun di daerah Sudirman sore ini. Di balik kaca sebuah restoran fast food, terlihat pasangan, sepertinya sepasang kekasih, yang sedang menghabiskan makanannya. Si pria terdengar mulai berbicara di tengah-tengah usahanya menghabiskan ayam dan kentang goreng.

“Kemarin Pak Tino dateng ke ruanganku, dan dia lagi-lagi bilang aku masih belum perform. Dia bilang, aku harus begini begitu begini begitu. Ah! Pusing dengernya. Dia tuh bisanya nyuruh-nyuruh aja. Padahal dia belum tentu bisa tuh. Kayak yang waktu itu aku ceritain, ada masalah ama Pak Renald, aku yang disuruh hadepin. Kalo bukan karena gajiku sekarang, sudah resign dari kapan tau nih aku.”

Perempuan memperhatikan pria itu dan segala keluhannya dengan seksama. Makanannya pun ia lepaskan sejenak saat pria itu bicara. Setelah pria itu menyelesaikan kalimatnya, wanita itu menanggapi.

“Yasudah. Kamu anggap saja itu pelajaran. Pengalaman. Jadi nanti kalau kamu sudah naik jabatan, ga kayak Pak Tino itu. (berhenti sesaat). Ayah dateng ke rumah kemarin. Dia lagi-lagi dateng sambil setengah mabuk. Lalu…

Sebelum si perempuan sempat menyelesaikan kalimatnya, si pria memotong.

“Si Dina juga bikin keadaan tambah runyam. Kerjaan dia tuh suka salah aja. Bikin aku yang disalahin dan tambah sebel de.”

Entah mengapa, pria itu tampak tidak perduli, padahal dari kalimat perempuan, dia seperti ingin menceritakan masalahnya.

“An, aku capek sama kamu. Kapan sih kamu bisa dengerin aku? Selalu aku yang dengerin kamu. Tiap aku mau cerita, kamu potong. Kamu cuma perduli ama kamu, kamu, dan kamu. Kapan sih kamu bisa dengerin aku? Masa aku yang harus dengerin kamu terus sih? Kapan giliran aku didengerin?”

Perempuan itu meninggikan nada suaranya. Pria itupun tampak terkejut dengan kalimat si perempuan. Belum selesai keterkejutan si lelaki, si perempuan melanjutkan kata-katanya.

“Aku yakin, kamu juga ga tau aku lagi sakit kan? Minggu lalu aku mau cerita tapi kamu ga mau dengerin. Aku uda cek dan aku positif kena kanker payudara. Ternyata, kanker ini sudah mengganas. Aku harus segera menjalani kemoterapi kalau masih ingin memperpanjang umur. Kamu tau itu An?? Hah? Pasti nggak kan? Kamu sibuk ama masalah-masalahmu. Kamu anggep semua masalahku itu, ga penting!” (air mata si perempuan mulai menetes).

———————————————————————————————————————————————————————

Kopi hitamku yang tersisa kembali kuminum. Aku tertegun memperhatikan pasangan itu. Aku jadi tersadar. Kadang aku juga seperti si pria. Lupa untuk menyediakan waktu mendengarkan masalah kekasihku, teman-temanku, orang tuaku, dan orang-orang lainnya. Aku hanya mau didengarkan saja.

Mungkin juga kadang aku hanya hearing bukan active listening. Apa bedanya? Hearing itu hanya salah satu tahapan dari listening, yaitu saat telinga menangkap suara. Sementara itu active listening adalah seluruh tahapan komunikasi itu sendiri, dimana mulai dari tahapan menangkap suara, memahami maksud suara atau kalimat, sampai dengan merespon dengan tepat sesuai kalimat yang kita pahami tersebut (Mindtools.com).

Lamunanku dibuyarkan oleh bunyi handphone ku. Terlihat nama Silvi di layar. Akupun mengangkat telpon itu.

“Lu mesti DENGERIN gue ya…”

Advertisements

8 thoughts on “Please…. Listen to Me

  1. hahahah.. keren koh. jadi mikir juga. etapi menurut gue mendingan yang di dalam kurung itu ngga usah ditaro dalam kurung. jadiin kalimat sendiri di paragraf sendiri. biar ngga kayak subtitle. satu lagi, peduli bukan perduli. ayo bikin lagi! 😀

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s