Think Out Loud

Emoticon-Focused Coping

Sering liat emoticon 🙂 atau 😦 atau 😛 atau yang lebih membingungkan >< ?

Beberapa hari ini gua kepikiran buat nulis tentang emoticon. Ternyata tadi sore di twitter, temen gua (sebut saja namanya Disa) ngetwit tentang emoticon dan gua tanggepin. Hasilnya, gua makin niat bikin tulisan tentang emoticon. Oya, ini screenshotnya twit yang menguatkan niat gua tadi:

Emoticon atau smiley itu uda jadi sesuatu yang sangat umum dalam komunikasi tulisan saat ini. Emoticon itu awalnya dibuat supaya komunikasi tulisan jadi lebih ekspresif dan kita tidak salah paham saat berkomunikasi lewat tulisan karena kita tahu ekspresi emosi dari pengirim pesan tulisan. Jenis emoticon juga sangat variatif, bahkan di BlackBerry ada emoticon-emoticon yang tidak hanya memakai simbol umum.

Dengan berkembangnya jenis emoticon tersebut, menurut gua sekarang justru menimbulkan masalah yang membuat pemakaian emoticon kadang kala bertolak belakang dengan tujuan awal dibuatnya emoticon itu sendiri. Masalah yang pertama yaitu jumlah variasi emoticon yang banyak tersebut kadang tidak semuanya dimengerti. Suatu saat temen chat gua ngirim emoticon ” x)” atau “:3”. Spontan gua nanya maknanya apa karena gua bingung arti kedua emoticon itu. Ada yang tau? Kedua emoticon tersebut buat gua ga umum dan sulit membayangkan bentuk wajah yang mirip simbol-simbol itu. Ini tentunya merepotkan karena bukannya membuat pengirim pesan lebih ekspresif, emoticon-emoticon tadi malahan berpotensi memicu kesalahpahaman.

Masalah kedua yang gua amati dan ternyata Disa juga merasakan hal yang sama adalah apakah emoticon yang digunakan merupakan benar-benar ekspresi emosi kita saat itu? Saat chatting, penggunaan emoticon sekarang sudah seperti refleks. Pengalaman pribadi gua, kadang saat gua chatting, emoticon “:)” yang berarti senyum itu terkirim begitu saja padahal saat itu gua tidak sedang senyum, atau gua baca  “:'(” padahal ternyata lawan bicara gua tidak sedang menangis ataupun sedih. Emoticon-emoticon itu digunakan walaupun tidak mewakili ekspresi emosi kita yang sesungguhnya. Hal ini kadang menyebalkan dan menjebak tentunya. Saat orang mengirim emoticon “:)” kita berpikir orang tersebut senang dan tersenyum pada kita, padahal pada kenyataannya mungkin saja sebaliknya. It’s fake. Tipuan. Mungkin saja orang yang mengirimkan emoticon senyum tersebut tidak suka pada kita. Ini tentunya bertolak belakang dengan tujuan awal emoticon supaya kita mengetahui ekspresi emosi lawan bicara kita.

Menurut gua, yang perlu dilakukan untuk meminimalisasi 2 masalah di atas atau masalah lain yang berhubungan dengan emoticon adalah dengan menggunakan emoticon secara tepat, jujur, dan mudah dipahami oleh semua orang. Tepat maksudnya adalah saat sedang membicarakan sesuatu yang menyenangkan ya memakai emoticon yang mengekspresikan senang juga, sebaliknya saat membicarakan sesuatu yang sedih ya memakai emoticon yang sedih juga. Jujur ini maksudnya jangan mengirimkan ekspresi yang tidak sesuai dengan ekspresi emosi kita yang sesungguhnya. Dan terakhir, mudah dipahami, kirimkanlah emoticon-emoticon yang sudah sering digunakan oleh banyak orang dan artinya tidak multitafsir. Mudah-mudahan dengan cara begitu emoticon dapat membuat kita lebih mengerti maksud komunikasi tulisan bukan sebaliknya. 🙂 (Gua tersenyum saat menutup tulisan ini)

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s