Reflection

Waktu: “Selalu Aku yang Salah…”

Gua ga ada waktu nih. Sehari 24 jam itu kurang de, bisa ga sih 25 jam?

Pernah ngomong atau berpikir kayak gitu? Kadang kala (atau mungkin sering?) waktu yang disalahkan saat kita tidak dapat melakukan suatu hal atau gagal memenuhi deadline dari suatu tugas. Waktu memang sasaran empuk untuk jadi tameng kita saat kita berpikir tidak dapat melakukan sesuatu karena waktu tidak bisa marah, tidak bisa protes, tetap diam walaupun kita salahkan terus.

Salah satu masalah yang sering membuat kita pada akhirnya menyalahkan waktu adalah manajemen waktu atau time management. Ada dua kesalahan yang sering gua temuin dalam manajemen waktu ini, mengulur-ulur waktu pengerjaan dan kesalahan menentukan hal yang penting dan mendesak untuk dilakukan lebih dahulu (atau skala prioritas). Pastinya kalau kita mengulur-ulur waktu pengerjaan hingga mepet hari H deadline dan ternyata ada masalah yang tidak mungkin diselesaikan hari itu juga, deadline kita akan gagal terpenuhi. Padahal, sebenarnya kalau kita nggak ngulur waktu, mungkin deadline yang kita punya terpenuhi. Kesalahan kedua adalah kita salah menentukan mana hal yang harusnya dikerjakan lebih dahulu. Kita gagal memenuhi deadline untuk sesuatu yang penting dan mendesak karena kita lebih mengutamakan sesuatu yang kurang penting dan tidak mendesak lebih dahulu. Pada akhirnya? Ya lagi-lagi kita menyalahkan waktu. “Waktunya kurang sih. Coba tambah lagi waktunya. Pasti bisa deh.”

Kita juga sering menyalahkan waktu saat kita merasa terlalu sibuk untuk menerima tawaran kegiatan lain. Berhubungan dengan hal ini, tadi gua menemukan potongan kata-kata dari Ruang Freelance seperti berikut:

Sebenarnya kalau anda masih hidup tidak ada yang namanya tidak punya waktu. Anda hanya tidak punya waktu kalau anda sudah mati. Tidak ada yang namanya yang tidak punya waktu, yang ada adalah anda tidak menemukan alasan yang tepat mengapa anda harus ngeblog, kenapa anda harus memprioritaskannya. Anda tidak menemukan poin ‘apa-untungnya-untuk-anda‘-nya.

Kita bukannya ga punya waktu tapi emang ga nemu aja ‘apa-untungnya-untuk-kita‘nya atau bisa juga karena males. Kemalesan kita untuk ngelakuin sesuatu itu bikin kita cari alesan, dan ternyata alesan paling sering dipake adalah “ga ada waktu”. Seperti sebelumnya, waktu itu hanya alesan alias alibi kita aja.

Gua jadi sadar kalau ga selalu waktu yang salah. Selalu menyalahkan waktu itu membuat kita jadi tidak berani mengakui kesalahan kita. Waktu akan terus berjalan selama kita masih terus menyalahkan waktu, dan akan banyak waktu terbuang sia-sia.  Saat kita sadar waktu kita hampir habis karena sibuk menyalahkan waktu, bukan instropeksi untuk memperbaiki diri, akhirnya kita akan lagi-lagi berkata:

Gua ga ada waktu nih. Sehari 24 jam itu kurang de, bisa ga sih 25 jam?

Advertisements

2 thoughts on “Waktu: “Selalu Aku yang Salah…”

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s