Fictionary

Aku Juga Anak Indonesia Kok. Selamat Hari Anak Nasional Untukku.

Di sebuah mall lokal, tampak seorang anak sedang asik main di Timezone, sementara ibunya duduk memperhatikan sambil sesekali chating dengan temannya lewat BB. Setelah selesai asik bermain di Timezone. Anaknya diajak pergi ke toko mainan anak-anak. Di sana sang anak memilih beberapa mainan modern nan canggih. Ibunya dengan mudahnya mengeluarkan uang yang lumayan banyak di kasir untuk membayar mainan yang anak pilih tadi. Tampaknya ada hipnotis yang membuat anak dan ibu itu masih mau bertahan lebih lama di mall itu, dan akhirnya si ibu mengajak anaknya mencari baju untuk lebaran yang sebentar lagi datang. Seakan sudah lepas dari hipnotis mall itu, akhirnya ibu dan anaknya mau beranjak dari mall itu.

Di dalam mobil ber-AC dingin dan interior nyaman, anak itu  senang sekali melihat-lihat mainan yang ia pilih tadi. Ibunya juga tampak senang dengan baju yang sudah ia pilih untuk lebaran. Ah, sungguh senang. Lampu merah membuat mobil mereka harus berhenti. Roni dan adiknya Ina yang dari tadi menunggu lampu merahpun langsung berlarian ke mobil-mobil yang berhenti di lampu merah itu. Kali ini, lagu “Alamat Palsu”nya Ayu Tingting yang jadi andalan mereka untuk mengamen. Dengan suara yang agak sumbang dan beberapa lirik yang tidak tepat, mereka mencoba mengetuk pintu hati orang-orang di dalam mobil untuk memberikan sekedar “uang kecil” untuk mereka.

Akhirnya, sampailah Roni dan Ina ke samping mobil anak dan ibu tadi. Masih dengan lagu Ayu Tingting tadi, mereka berharap mendapatkan uang dari ibu dan anak itu. Ternyata kedua anak jalanan itu sempat melihat betapa senangnya anak di dalam mobil tadi memainkan mainan yang ia pilih. Secara alami, Roni dan Ina juga ingin sekali memainkan mainan yang sedang dimainkan itu. Ina yang masih berumur 4 tahun secara refleks sedikit merengek ke kakaknya meminta diberikan mainan yang ada di dalam mobil itu. Tentunya kakaknya hanya bisa bilang “Nanti ya de.” Setelah si ibu memberikan selembar 5000 rupiah kepada Roni, Roni pun segera mengajak Ina pergi sebelum rengekan Ina makin kuat untuk meminta mainan yang dalam mimpipun tidak mungkin mereka dapatkan.

Lampu berubah hijau, mobil yang ada ibu dan anak tadi mulai maju. Si anak bertanya pada ibunya

“Ma, kenapa mereka mainnya di jalanan ya? Terus kenapa mama kasih 5000 ke mereka?”

Rupanya anak itu belum tahu kalau Roni dan Ina adalah anak jalanan yang mengamen dan berharap diberikan uang oleh ibunya.

“Iya sayang. Mereka namanya anak jalanan. Mereka itu ngamen buat dapet uang, makanya mama kasih uang.”

“Anak jalanan? Anak jalanan ngerayain hari anak nasional kayak yang tadi di mall dirayain juga ga ma?”

“Hm…”

“Rayain ga ma? Kayak tadi aku dikasih balon, pin, buku tulis dan pensil buat sekolah.”

“Mama ga tau sayang, tapi yang pasti mereka itu sibuk, jadi ga sempet ke mall.”

“Aku masih penasaran. Jadi mereka sempet ngerayain juga ga ya? Kan mereka anak-anak Indonesia juga.”

Anyone have the answer? Do Roni, Ina, and other street children celebrate the “Hari Anak Nasional”?

SELAMAT HARI ANAK NASIONAL UNTUK SEMUA ANAK INDONESIA DIMANAPUN, YANG DI JALANAN, DI RUMAH, DI SEKOLAH, ATAU DIMANAPUN! SEMOGA HARI INI AKAN JADI BUKAN HANYA SEBUAH PERAYAAN SETAHUN SEKALI, TAPI SEBUAH KEPERDULIAN SEPANJANG TAHUN.

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s