Fictionary

Catatan (Mantan) Anak Kampung

21 Juni 1990

Besok pengumuman UMPTN. Aku harap aku lolos dan masuk ke universitas negeri tujuanku, Universitas Indonesia di Jakarta sana. Aku mau ambil jurusan kedokteran gigi. Mengapa jurusan itu? Aku ingin membuat gigi orang-orang kampungku ini lebih baik. Sekarang ini banyak orang di kampungku yang memakai air sungai (yang dipakai untuk mandi dan buang air juga) untuk sikat gigi makanya giginya banyak yang bolong atau bahkan ompong. Kamar mandi itu sebuah kemewahan untuk kampungku. Hanya beberapa orang yang punya kamar mandi di rumahnya, salah satunya keluargaku.

Oya, kenapa UI yang di Jakarta, bukan universitas negeri yang ada di dekat daerahku? Aku ingin sekali melihat seperti apa Jakarta, ibu kota Indonesia itu. Selama ini aku cuma lihat Jakarta lewat siaran Dunia Dalam Berita TVRI. Aku ingin menginjakkan kaki sendiri di sana.

22 Juni 1990

Aku diterima di kedokteran gigi UI! Kampungku geger. Pertama kali seorang anak kampung ini masuk UI. Hatiku tak dapat dijelaskan senangnya. Mimpiku terwujud.

24 Juni 1990

Malam ini, untuk merayakan kelulusanku, keluargaku menanggap layar tancap. Hiburan termewah di kampungku.

“Kalau di Jakarta, ada yang namanya bisokop bos. Nontonnya di dalam ruangan. Layarnya juga lebih besar. Wah, asik lah pokoknya. Nanti kau lihat lah.” Bisik Ahmad, tetanggaku yang mengaku pernah ke Jakarta tapi ngomong bioskop saja salah.

Aku ragu dengan pengakuannya. aku curiga dia hanya membaca buku Jakartaku Kini di perpustakaan sekolahku. Soalnya kata-katanya saat menjelaskan tentang Jakarta sama persis dengan kata-kata di buku itu. Tapi aku memang penasaran dengan bioskop yang dia bilang itu. Seperti apa bioskop itu. Kata ibu Laila, guru kesenianku, bioskop itu tempat memutar film-film baru. Ah, tak sabar aku ingin ke sana.

15 Juli 1990

Hari ini hari keberangkatanku ke Jakarta. Perkiraannya mungkin sekitar 4 hari perjalanan dengan bis. Tadi siang aku sudah melewati jalanan kampungku yang lagi-lagi jadi saksi bisu ketidakmerataan pembangunan di Indonesia ini. Jalanan yang rusak parah dan sempit. Sebenarnya jalanan itu pernah diperbaiki waktu Pak Presiden Suharto datang ke kampungku. Iya, Pak Harto pernah ke kampungku sekali. Sebulan sebelum dia datang, mendadak jalanan diperbaiki, beberapa tempat yang buruk diperindah. Ya, itu sudah lama, sekitar akhir 70an. Aku masih kecil waktu itu, tapi cukup kaget dengan pembangunan jalanan. Pak Harto yang datang memuji kampungku, katanya ini bisa jadi bukti bahwa pembangunan tidak hanya ada di kota besar, tapi di kampung-kampung juga sedang membangun. Aku yang masih SD percaya saja kata-kata bapak presiden yang terhormat. Kini aku sadar perbaikan jalan itu hanya terjadi sekali seumur hidupku. Jalanan yang hancur parahpun tetap dibiarkan hingga kini karena tampaknya Pak Harto atau menteri-menterinya belum akan kesini lagi.

16 Juli 2012

Sudah 20 tahun lebih aku di Jakarta. Aku akhirnya menetap di sini. Kini tiap bulan minimal sekali aku ke bioskop, lebih sering dua kali. Ternyata memang bioskop itu seru. Jalanan berlubang tak banyak kutemui di kota ini. Yang lebih banyak kutemui adalah lubang berjalan.  Di kampungku, hingga natal kemarin, jalanan hancur yang menghubungkan kampungku dengan dunia luar itu masih hancur juga. Menyedihkan memang. Air bersih dibuang-buang di kota ini, sementara di kampungku hingga kini masih banyak yang mandi, buang air besar, dan mencuci di sungai yang sama. Padahal aku sudah sering memberikan penyuluhan cara sikat gigi yang benar dan bekerja sama dengan temanku untuk mengajari mereka membuat kamar mandi tertutup di rumah masing-masing. Sayangnya, karena tidak ada dana pribadi dan pemerintah daerah belum bisa menurunkan dana APBD maka tidak ada tindak lanjutnya.

Saat ini, Jakarta berkembang terus dengan cepat, gedung-gedung, mobil, motor terus bertambah. Minggu lalu aku belum lihat minimarket asal Amerika itu, kini sudah ramai oleh remaja tanggung yang hanya beli minuman untuk numpang duduk-duduk. Kota ini benar-benar 180 derajat bedanya dari kampungku lah. Aku jadi bingung maksudnya “adil” di sila kelima itu apa. Masalah ketidakmerataan pembangunan di Indonesia ini belum teratasi hingga kini, masa reformasi. Kampungku yang begitupun bahkan masih lebih beruntung. Tempat aku kerja praktik itu di sebuah kampung yang jauh lebih buruk dari kampungku, tidak ada sama sekali yang namanya kamar mandi hingga saat itu. Sungguh paradoks.

Sebagai anak kampung, aku tentu punya mimpi suatu saat kampungku dan kampung-kampung lainnya akan berkembang juga. Ya, tidak jadi seperti Jakarta, tetap sebuah kampung, tapi punya jalanan yang tidak berlubang lagi, setiap rumah ada kamar mandi, dan sekolah yang mudah dijangkau (sekolahku dulu jaraknya sekitar 10 kilo dari rumahku dan hanya bisa dilewati dengan naik sepeda, kini lebih baik, 5 kilo dari rumahku). Oya, dan pastinya punya bioskop.

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s