Fictionary

Menunggu

Ah, mandek. Gua ga tau mesti diapain lagi website ini, padahal, ya itu tadi, besok pagi gua mesti presentasi hasil kerjaan gua ini ke klien. Waktu kenapa terasa lebih cepet dari biasanya ya? Ga terasa sudah jam 12 lebih 23 menit. Tampaknya jam ini juga sudah berkonspirasi dengan klien tadi.

Gua pergi ke balkon apartemen gua dan mulai ngerokok batang pertama, berharap nikotinnya mengaktifkan pusat syaraf kreatif di otak gua. Oh, bulan purnama ternyata malam ini. Bulan bagus? Ah, biasa saja buat gua. Gua lebih suka bintang. Malem ini dia belum dateng, mungkin sebentar lagi. Gua mau nungguin ah. Deadline? Gampanglah.

Entah nikotin atau racun lainnya di dalam rokok, atau memang karena hari sudah terlalu larut, makanya gua jadi mikir macem-macem. Pikiran gua melayang. Gua nemu majalah bekas di atas meja di balkon itu. Di tengah pikiran yang melayang-layang itu, gua nemu sebuah artikel tentang seorang suami yang setia nungguin istrinya koma selama 25 tahun, dan pada akhirnya istrinya meninggal juga. Sekarang gua lagi nungguin bintang, sementara sebenarnya ada klien yang nungguin gua, dan, ada Indra yang kayaknya masih sabar nungguin gua yang belum mau nikah padahal udah umur 29 tahun. Menunggu. Gua jadi mikirin itu! Damn!

Gua ga ngerti kenapa ada orang yang mau sabar nungguin istrinya yang koma kayak gitu? Kalo gua jadi nikah ama Indra, dia akan sesetia itu ga ya? Haha. Suami yang nungguin istrinya itu pasti berharap banget ya istrinya bisa bangun lagi suatu hari. Bisa bareng-bareng lagi sama dia, saling mencintai sampai ajal menjemput keduanya. Oh, so sweet. Haha. Dari cerita si suami itu, gua jadi mikir kalo waktu itu bukan menjadi suatu batasan dalam orang menunggu untuk mendapatkan sesuatu dalam hidup. Yang jadi batasan adalah apakah ada harapan atau tidak. Selama masih ada harapan, sekalipun kecil, mungkin ga ada salahnya kita tetap nunggu untuk mendapatkan itu. Wah, bijak banget gua malem ini. Nikotin ternyata bukan bikin kreatif, tapi bikin bijak.

Jam ini sungguh kurang ajar. Masa gua tinggal ngerokok dan baca artikel aja uda nambah 2 jam. Uda hampir setengah 3 pagi. Eh, bintangnya dateng. Ah, akhirnya yang gua tunggu dateng, emang selama masih ada harapan itu mesti ditunggu. 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Menunggu

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s