Testimony / Think Out Loud

Untuk Sebuah Teater (Keluarga) Bermarga Psikologi UI

Mulai darimana ya? hahaha.. bingung…

Di evaluasi kemaren, gua uda omongin beberapa hal dan menurut gua,  kata2 gua masih kacau. Semoga tulisan ini bisa lebih mewakili pikiran gua yang kacau… (terngiang lagu “wakacau wakacau”nya gaban). :p

Setelah gua lulus, 2010, gua ga kebayang bahwa gua mungkin akan bisa ikutan main di pementasan teko lagi. Ya iyalah, kerja kantoran mana bisa latihan gitu2? Tapi seperti kata james bond, never say never. Kemarin, 15 Mei 2013. Hampir 3 tahun setelah gua lulus (15 hari sebelum gua sidang kelulusan skripsi 2010 dulu), gua ga mimpi bahwa gua main di panggung bareng anak-anak Teko UI lagi. Sebuah hal yang sangat sangat sangat sangat….. menyenangkan? NO! membahagiakan? NO! Come on, give me the word to express it! I have no word to express it.

Di samping gua seneng karena akhirnya gua main lagi, ada sebuah kesenangan yang jauh lebih lebih lebih menyenangkan. Yaitu gua main bersama teko ui. Tempat yang mengubah hidup gua. Sebuah keluarga yang gua dan beberapa teman rintis pada mulai tanggal 18 Oktober 2007. Keluarga yang awalnya dingin. Keluarga yang awalnya kecil. (you know, di awal2 teko berdiri, latihan dengan 3 orang adalah hal yang normal. Saat lebih dari 10 orang berkumpul, itu mukjizat sedang terjadi. :p). Kini keluarga itu uda jadi besar. Keluarga itu menjadi hangat, meneduhkan, selalu bisa mengukir senyum di saat air mata ingin untuk terjun dari mata. Ok! mulai lebai. hahaha

Pentas kemarin memang bukan pentas besar, even untuk ukuran Teko, TAPI apa yang kalian sudah lakukan dan capai adalah sesuatu yang sangat besar dan mimpipun gua ga berani kalo Teko akan sampe ke titik ini.

Ada 2 hal yang gua sangat bangga dan senang dengan kita semua saat ini.

Yang pertama, tentunya kita bukan lagi komunitas. Kita adalah keluarga. Kita saling merindu waktu ga ketemu. Saling peduli ketika ada yang sakit. Menawarkan bantuan waktu ada yang butuh tanpa diminta. Ada konflik-konflik kecil kadang (keluarga mana yg ga punya konflik?). Gua ga gitu peduli kalo gua dibilang lebai, tapi dari beberapa tahun ini emang teko keluarga gua. Walau kadang gua ga suka ama beberapa orang, tapi ya dia tetep keluarga gua. Kita ‘satu senang semua senang’ dan ‘satu sakit semua peduli’. ‘Satu senang semua senang’ bukan lagi sekedar kata-kata manis untuk menutup pertemuan tanpa makna. Tapi kata-kata itu jadi sebuah harapan dan kita berusaha mewujudkannya. Ah, sumpah, gua keabisan kata-kata di sini. Pokoknya, ya gitu deh. Kalian itu keluarga gua. Cuma Teko yang bikin gua nginep di kampus setelah lulus. hahaha. Cuma teko, tempat dimana gua buka 90% topeng gua (10% itu bagian celana dan sekitarnya.:p). Lanjutkan ini… Cuma Teko yang……

Gua tau bahwa gua ga siap kehilangan kalian sekarang. Tapi ya, gua cuma bisa minta untuk kalian (each one of you) stay, ga bisa insist, cuma bisa berharap….

Yang kedua, teko uda sampai di titik dimana kita bener-bener menjadi kelompok teater. Iya, kelompok teater bukan hanya kelompok orang yang berusaha memainkan drama di panggung tanpa mempertimbangkan perkembangan skill dasar teater. Walaupun mungkin 2 tahun ini gua rasa latihan dasar berkurang banyak, tapi kita akan terus berusaha untuk melatih itu selama kita bisa, dan menjadikan itu dasar kita berkesenian. Teko sekarang juga AKHIRNYA punya make up, punya lampu, punya kostum…. ah, dan yang paling penting adalah teko punya kreativitas tanpa batas dari tiap orang. Kalian adalah orang-porang yang ingin bersenang-senang melalui media teater, bukan hanya HAHA HIHI, tapi kita berkarya lewat teater. Gua berhenti ngetik di sini dan… WOW!! Again. gua kehilangan kata-kata cui! Kalian AWESOME. Gua dan beberapa teman lain emang merintis, tapi kalian… iya, kalian…. Kalian lah yang menjadikan TEKO bisa kayak sekarang. TEKO yang siap merayakan hidup dengan memberikan yang terbaik ketika lampu panggung itu menyala.

Hahaha. lebai ya gua? biarin deh… Gua tuh kagum banget dari awal kalian kirim cerita yang banyak banget itu. itu pertama kali kita mesti ‘parkir’ cerita karena kebanyakan. Trus juga, kalian semangat banget casting… pengen main di semua cerita gitu. haha. Bagus banget semangat dan usahanya! Trus setelah diterima, kalian semua ga nyerah walaupun gua tau, latihan kadang membosankan, menyebalkan, dan lelah, kalian tetap bertahan, sampe akhir. Ga ada pergantian pemain kan ampe akhir? Itu semua cuma karena kalian yang mau bertahan. again, salute!! Lalu, kalian bisa beli lampu 14 biji! GOSH! itu banyak men!!! Masangnya aja lama kan? Beli make up ga lupa! wow! make up sendiri!! atas nama TEKO! hahahaha. gila! what can i say??

Oya oya oya. Ada kaos juga akhirnya teko! emblem juga masih di jalan dari purwokerto ya, clara? :p Gosh!! kalian super keren!

Gua makasih buat semua panitia Raja 4, dari PO, WaPO, sekretaris, pubdok, stage manager, properti, perlap, danus, bendahara, kostum, make up, musik (ada yg ketinggalan ga?). Makasih semuanya, maaf gua uda ngerepotin minta ini itu yaa. hehehe. Juga makasih buat semua pengirim cerita yang uda super keren semuanya, tinggal masalah waktu aja teko jadi penjual naskah. hahaha. Makasih juga buat semua sutradara dan pemain yang latihannya gila! haha. Semangat kalian itu loh! To be honest, gua ga gitu peduli hasil loh… yang gua peduliin adalah proses kalian berkembangnya. Dan gua liat itu. Special buat iput. You do make a huge progress, dear! Hope you enjoy the progress and will make it again in the near future! 🙂

Gua ga tau ampe kapan gua akan bisa serutin sekarang kunjungin keluarga ini, tapi gua akan berusaha selama mungkin yang gua bisa (ya kalo ada jodoh gua di teko juga sih pasti akan lama ya. #superkode. :p).

Raja 4 mungkin udah selesai, euforia setelah pentas akan muncul, tapi perjalanan kita belum selesai teman-teman. Kita ga mau cuma berhenti di sini kan? Ini cuma batu loncatan selanjutnya buat sebuah karya yang lebih besar dan perayaan yang lebih besar lagi. Gua pernah ditanya ama seseorang, “lu mau teko jadi kayak apa sih?” Jawaban gua waktu itu, “Bukan gua yang nentuin teko mestinya kayak apa. Tapi anak teko yang aktif yang mestinya nentuin itu. Tiap zaman akan punya tantangannya sendiri, dan apakah Teko masih relevan buat anak-anak di zaman itu, ya ga tau. Dan, gua ga peduli kalo suatu saat gua datang dan memang ternyata gua uda ga diterima di situ. At least, gua tau, Teko tetap ada, dengan bentuk yang sesuai dengan zamannya, dan gua pernah ada di dalamnya.” Itu jawaban idealis gua. Gua ga siap kalo ga diterima kalian sekarang sih. hahahaha. Tapi, ya, emang mestinya teko berkembang… Memenuhi kebutuhan anak-anak zamannya. Bukan lagi terus-terusan mengcopy apa yang gua dan para perintis bikin. Selama kalian masih menyandang nama Teater yang bermarga Psikologi UI, tetaplah berkembang, jangan takut dan membatasi diri untuk melakukan perkembangan positif, seperti halnya ilmu kita yang dibutuhkan dimanapun ada manusia, teko UI juga akan ada dimanapun kita berada, karena dia ada dalam hati kita. :’)

 

-Satu senang semua senang-

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s