Fictionary

Sketsa Malam dari dalam Bis

Malam tidak pernah absen menjalankan tugasnya menggelapkan terang. Dan aku, seperti beberapa juta penduduk jakarta siang, sedang berusaha kembali ke tempat asal kami (yang sepertinya kurang menjanjikan penghidupan sampai-sampai kami harus kerja lintas kota dan propinsi).

Malam ini, giliran bis yang harus rela kursinya kududuki sampai aku kembali ke kota asalku. Sensasi naik bis memang berbeda. Salah satunya, ongkos naik bis itu biasanya termasuk tiket nonton mini konser dari para musisi jalanan (di luar pajak), tak terkecuali malam ini.

“Permisi bapak supir dan kondektur ya. Bapak ibu sekalian. Bertemu lagi dengan pengamen jalanan. Mohon maaf kalau kehadiran kami mengganggu istirahat bapak ibu. Kami hanya mencari sesuap nasi daripada kami menodong….”

Kira-kira, begitu untaian prolog teman-teman “artis jalanan” tiap mau mulai konsernya. Ada yang dengan nada ramah, ada yang sedikit mengancam. Bermacam-macam bentuknya, ya tergantung persepsi kita juga pastinya.

Malam ini, hanya 5 menit setelah bis berangkat dari terminal, artis pertama mulai beraksi. Suaranya kurang bagus. (Ok, aku mengaku itu hanya penghalusan bahwa sebenarnya suaranya jelek banget).

Selesai artis pertama, lanjut yang kedua. Seperti yang kubilang, sensasi naik bis memang berbeda. Selain pengamen, aku juga suka pemandangan jalanan malam dari kaca jendela bis.

Aku mulai melihat ke luar lewat kaca besar di kananku, beberapa pesan di ponsel aku hiraukan. Entah apanya, tapi malam selalu membuat otak bekerja dengan lebih acak, hingga membuat kontemplasi yang kadang menyenangkan, mengharukan, sampai menyedihkan.

Aku jadi bertanya pada pantulan bayang diriku tipis di kaca tebal ini, siapa aku di tengah keramaian kota ini? Adakah aku sudah berguna atau aku sebenarnya hanya sebuah mur kecil dari sebuah mesin kapitalis ibu kota, yang disadari keberadaannya saja tidak? Ngelantur memang. Lagi-lagi aku ingin menyalahkan malam untuk pikiran aneh ini. (Mau gimana lagi? Sudah kodratku sebagai manusia untuk menyalahkan orang lain kan?)

Bayangan kejadian-kejadian hidupku mulai muncul. Kadang bayang sukses, kadang bayang gagal. Semua muncul seperti iklan di sinetron prime time, bergantian dan tak habis-habis. Kadang lamunan ini dipotong oleh bunyi koin-koin beradu di tangan kondektur yang menagih ongkos (kadang menagihku lagi padahal aku sudah bayar). Kembali ke bayangan tadi, semua membuatku makin merenung. Sebenarnya, aku tak tahu juga untuk apa direnungi, tapi otakku ingin, ya kupuaskan dia sesekali.

Terbius oleh lamunanku sendiri, aku jadi tidak sadar harus turun segera. Tiba-tiba suara kondektur yang menyadarkanku. Akupun buru-buru berdiri dan mengetok tiang di tengah atap bis supaya supir menghetikan bisnya segera, tanpa peduli apakah ada plang larangan berhenti atau tidak. Bis berhenti, aku belum turun sempurna tapi bis sudah jalan kembali. Ya, memang ini sensasi tersendiri juga dari naik bis.

Malam semakin malam, bis sudah berlalu tanpa menunggu lama. Tersisa aku. Tidak, tanpa bayang dan renungan tadi. Mereka tidak tersisa, tertinggal di bis tadi. Paling tidak tampaknya otakku mindgasm malam ini, buktinya sekarang dia lemas sekali sampai tak mau berpikir.

image

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s