Fictionary

Curhat Sang Hujan

Malam ini aku kembali turun ke bumi, kali ini bersama temanku, petir. Aku turun dengan sangat lebat malam ini. Iya, aku hujan. Tidak ada yang tidak kenal aku.

Beberapa saat ini aku berpikir, kasihan sekali diriku. Ketika mereka masih kecil, aku akan dipuja oleh anak-anak manusia seperti halnya hadiah dari dewa. Begitu mereka sudah dewasa, aku akan dikutuk karena aku dianggap menyebabkan banjir, macet, kotor, dan segala masalah lainnya yang bisa dikaitkan dengan diriku.

Aku jadi ingat, tadi malam, saat aku melihat ke kanan, mataku menatap pramuria, telingaku mendengar makian juga terhadap diriku. “Ngentot nih hujan. Bikin banjir aja. Bakalan sepi pengunjung deh.” Ternyata pramuria juga tidak suka denganku. Ah, padahal kupikir udara dingin ketika aku turun akan meningkatkan nafsu para lelaki melampiaskan nafsu syahwat mereka ke para pramuria ini. Ternyata tidak sesederhana itu. Lagi-lagi, aku yang disalahkan.

Besok malam aku menengok ke kiri, ada 2 orang penyambut tamu di gereja berdiri dan sesekali mengintip ke arah jauh. Telingaku melengkapi data yang kudapat dari mataku. “Ah, kayaknya sepi nih yang dateng kebaktian kalau hujan gini. Kalau gua ga tugas nyambut tamu juga gua ga akan dateng. Pendetanya aja masih kejebak macet di Kebayoran katanya.” Sekali lagi, aku yang salah….

Beruntungnya manusia yang tidak jadi aku. Aku itu sesaat dipuja, lalu kemudian dihujat bak pemerkosa anak-anak kecil. Tidak mudah memang bagiku. Sialnya lagi, tampaknya juga tidak ada yang peduli terhadap perasaanku. Buktinya, tidak pernah ada yang namanya “Psikologi Hujan”.

Haha. Tapi tentunya aku juga tidak ingin menjadi manusia atau apapun. Aku senang menjadi hujan. Manusia tak peduli pada perasaanku? Akupun demikan. Aku akan turun kapanpun aku senang. Memang, banyak manusia yang mencoba memprediksi kapan aku akan turun, tapi berapa banyak yang berakhir nelangsa karena aku turun semauku. Hahaha… Hebat kan aku? Aku bisa melakukan banyak hal tanpa perlu memikirkan pandangan orang lain. Tidak seperti manusia dewasa yang mencercaku tapi tak bisa seperti aku. Mereka seringkali harus patuh pada norma-norma yang dianggap benar tanpa boleh bertanya mengapa. Sementara aku? Ya, aku bisa turun kapanpun aku mau dan berhenti kapanpun aku mau juga. Tidak, aku tidak pernah menyakiti manusia. Kalau ada masalah yang disebabkan aku, sebenarnya akar masalahnya adalah keegoisan manusia. Hahaha.. Aku beruntung jadi hujan.

 

459544825

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s