Fictionary

Sehari Sebelum Meninggal

Semalam, ada malaikat datang kepadaku. Dia bilang, lusa aku akan meninggal. Aku tanya, jam berapa, katanya itu rahasia. Aneh sekali menurutku, kenapa kalau aku boleh tahu hari aku meninggal, mengapa tidak dengan jam-nya? Info malaikat ini jadi tampak meragukan, seperti SMS ‘undian berhadiah’, selalu ada kejanggalan. Malaikat itu juga pergi begitu saja setelah tidak menjawab pertanyaanku, mungkin dia takut aku akan lapor polisi bahwa dia sudah menipuku.

Darimana aku tahu dia malaikat? Mudah saja, dia punya sayap, lalu tubuhnya bercahaya. Itu penggambaran malaikat yang aku tahu dan percaya.

Jadi besok aku akan meninggal. Aku masih ragu sebenarnya akan informasi itu, tapi aku pikir lebih baik aku bersiap-siap. Maka, aku mencoba mendaftar apa yang harus aku lakukan sepanjang hari ini. Kuambil buku catatan dan pulpen. Aku mulai berpikir, mengingat, dan mencari tahu, apa yang aku harus lakukan. Jam di meja kerjaku sekarang jam 7.09 pagi. Aku punya minimal 16 jam 51 menit. Ok, 16 jam 50 menit karena sekarang jadi 7.10. Apa ya yang harus kulakukan?

Mentok. Aku akhirnya ambil HP dan iseng coba googling dengan query: persiapan sebelum meninggal. Yang keluar banyakan web bernuansa islami ternyata. Aku tidak begitu mengerti isinya. Jadi masih gagal dapat ide dari internet. Ah, apa ya yang harus dilakukan? Besok aku meninggal nih.

Akhirnya aku coba tulis dulu, hal-hal yang sederhana. Karena tampaknya tidak penting, akhirnya aku coret-coret tulisannya dan mulai lagi dari awal. Kucoba memikirkan hal yang lebih esensial, apa yang harus aku lakukan kalau besok aku meninggal.

Aku jadi sadar, ternyata aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan kalau besok meninggal. Padahal, dulu aku pikir, kalau tahu kapan aku meninggal akan sangat menyenangkan. Aku jadi bisa mempersiapkan semuanya. Tapi ternyata tidak juga. Aku bingung, apa yang harus aku lakukan? Semua terasa penting dan tidak penting.

Akhirnya aku coba hubungi sahabatku yang sedang kerja, aku minta ketemuan pas jam makan siang. Awalnya dia bilang tidak bisa, tapi karena aku memaksa akhirnya dia mau. Di restoran dekat kantornya, aku ceritakan semua kejadiannya. Dia tampak sangat kaget dan panik sampai pucat mukanya. Matanya juga berair, hampir menangis. Akupun mencoba menenangkannya. Aneh juga ya, aku yang meninggal besok, aku juga yang harus menenangkan dia.

Setelah dia tenang, lalu dia bilang, dia akan ijin dari kantor dan mengajakku berjalan kemanapun aku mau. Aku bilang tidak usah karena akupun tidak tahu mau kemana. Aku masih bingung aku harus berbuat apa sehari sebelum aku meninggal ini. Setelah dia memunculkan beberapa ide tempat, aku tetap tidak termotivasi, dan aku minta dia tenang saja dan kembali kerja. Dia bilang dia akan datang ke rumah sepulang kerja.

Aku pulang dengan yakin bahwa aku tidak akan meninggal hari ini, sehingga mobil kupacu dengan ugal-ugalan. Ternyata benar, hanya nyaris tabrakan yang kudapat, tapi aku aman aman saja sampai rumah. Sampai rumah, aku lelah, akhirnya aku tidur lagi. Bunyi HP-ku membangunkanku, ternyata sudah jam 7 dan sahabatku tadi menelpon karena sudah di depan rumah. Aku segera bangun dan buka pintu untuknya.

Setelah dia masuk, tidak banyak kata yang kami katakan. Aku hanya asik browsing, sementara dia terus melihat padaku sambil sesekali menenggak bir yang dia bawa. Aku benar-benar tidak tahu juga harus berkata apa. Pikiranku seperti buntu. Ah, temanku akhirnya tertidur di sofa. Aku ingin membangunkannya tapi sepertinya lebih baik tidak. Akhirnya aku tidur di kamar.

Badanku juga lelah sekali, tapi sepertinya otak ini terus berputar dan tidak mengijinkanku untuk tidur. Aku coba baca buku, tapi tetap tidak bisa tidur. Akhirnya hari berganti, sudah jam 12 lewat. Hari ini aku akan meninggal. Aku tahu tapi tidak mempersiapkan apapun. Sungguh menyedihkan.

Ternyata, memang lebih baik aku tidak tahu kapan aku meninggal. Jadi aku tidak perlu memikirkan tentang apa yang harus aku persiapkan. Aku jadi fokus pada apa yang bisa aku lakukan kalau aku hidup bukan apa yang harus disiapkan untuk meninggal besok. Kalau aku tidak tahu, aku cukup lakukan yang terbaik dalam segala hal tanpa memikirkan kapan aku tidak bisa melakukannya lagi. Kalau aku tidak tahu, aku akan fokus pada kehidupan, melakukan segala sesuatu yang berguna untuk orang lain, tanpa peduli kapan aku meninggal.

Ah, terlambat. Semua sudah terjadi. Menyesal juga tidak berguna. Hari ini aku akan meninggal. Aku harap semua yang kulakukan sudah cukup baik untuk orang lain.

Sekitar jam 4, ada cahaya terang di kamarku. Aku tertidur ternyata tadi. Dan malaikat yang kemarin datang, kini dia berdua dengan malaikat yang lebih gagah dan tampak dewasa. Aku berpikir ini waktuku. Mereka akan mengambil nyawaku sekarang. Aku menghela nafas dan bilang aku siap.

Malaikat yang tampak lebih dewasa mulai berkata-kata,

Anak muda, maafkan anak buah saya yang sudah salah memberitahumu bahwa kamu akan meninggal hari ini. Itu adalah sebuah kesalahan. Kamu tidak boleh tahu kapan kamu meninggal. Karena kemarin kamu sudah tahu, maka sekarang waktu kematianmu akan kami acak lagi. Kamu akan meninggal pada saat yang tepat. Sekali lagi, kami minta maaf.”

APA??? Aku tidak jadi mati hari ini???

You'll never live if you're too scared to

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s