Fictionary

Hanya dari Tatapan

Tatapan seorang perempuan
Akhirnya masa itu datang. Masa dimana tatapan mata menjadi lebih bermakna daripada sejuta kata. Tanpa perlu suara atau bahasa, cukup melihat dan kita saling mengerti.
Inikah yang disebut oleh manusia sebagai ‘cinta’? Atau aku hanya berlebihan?
Pada masa ini, aku tidak mengerti. Sungguh tidak mengerti. Aku tak pernah belajar bahasa tatapan mata, tapi aku mampu memahami semua maksud tatapan matamu. Bagaimana bisa?
Aku mengerti sedihnya, gelisahnya, dan takutnya ketika kau menatap aku. Bukan takut padaku, tapi takut terhadap apa yang akan terjadi kalau kita bersama. Aku percaya kau juga paham karena aku pun merasa sama setiap menatapmu.
……..
Satu masa dan dua masa bergulir, aku semakin paham tatapanmu. Dan, kini tatapanmu berubah, sebuah tatapan pasrah dan tenang. Kegelisahanmu sudah hilang. Kini kau juga tampak yakin. Kita tak pernah bertopik tentang ini, dan aku hanya tahu lewat tatapanmu. Biarlah aku sok tahu untuk ini karena sungguh indah sok tahu kali ini.

Tatapan seorang lelaki
Siang ini kita hanya mengucap 2 kata. ‘Hai’ dan ‘Sampai jumpa’. Entah kapan, tapi memang jumlah kata kita makin berkurang. Gantinya, kita hanya saling menatap. Matamu tidak terlalu indah, tapi tatapanmu sungguh dalam.
Aku dapat merasakan keinginan yang kuat tapi juga kegelisahan di saat yang sama. Perasaanku mengatakan seperti itu. Ah, mungkin hanya karena aku wanita yang terlalu perasa makanya jadi seperti itu. Tapi aku sungguh merasakannya.
Entah kenapa aku percaya kau juga tahu aku merasakan hal yang sama. Rasa gelisah, khawatir, takut akan hubungan kita. Hebatnya, kita tak pernah bercerita tentang ini. Ah, lagi, mungkin aku saja yang terlalu perasa.
Kini, masih sama. Aku dapat merasakan perasaanmu lewat tatapanmu. Bahkan lebih lagi. Yang berbeda, kini matamu lebih indah. Kini matamu bukan lebih ceria. Akupun menatapmu dengan lebih tenang, tak lagi terlalu gelisah. Khawatirku sudah berganti pasrah. Ini apa hanya rasaku yang berlebihan atau memang rasaku tepat adanya? Kita masih tak pernah berusaha cari kebenaran atau pembenaran. Yang ada hanya memahami. Tak peduli lagi aku. Kusenang dengan ini. Biarlah indah tetap indah dalam tatapan menguak makna.

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s