Fictionary / Think Out Loud

Dua Sisi Mata Sistem

Minggu siang ini, seperti biasa, aku duduk di kafe langgananku sambil membaca buku. Kafe ini sungguh menyenangkan karena cukup sepi, pilihan lagunya indah, dan minumannya pun enak. Tiap minggu aku tak pernah luput menikmati surga mini ini.
Ah, latteku sudah datang diantar oleh James, barista kafe ini. Dia adalah orang yang sangat ramah. Dia sering meminjamkan buku baru koleksinya. Ternyata dia punya perpustakaan di rumahnya. Pantas bukunya tak pernah habis.
Buku yang sedang kubaca kali inipun milik James. Sebuah novel semi fiksi tentang sejarah revolusi industri di negara ini. Menarik. Selain karena aku memang suka sejarah, tapi cara penulis ini membawakannya juga manis.
Novel ini mulai menggoda otakku untuk berpikir di hari istirahat ini (sungguh dosa otakku ini, padahal Tuhan sudah memerintahkan untuk istirahat pada hari ke 7). Ternyata revolusi industri mengubah peradaban negara ini, bahkan seluruh dunia. Manusia makin lama bukan lagi kerja untuk hidup, tapi hidup untuk kerja. Manusia jadi mirip mesin.
Mengerikan? Ah, pasti tidak. Sejak kita lahir, sistem itu sudah ada dan kita ada dalam sistem itu. Kita bagian sistem itu. Mulai dari pendidikan, pekerjaan, perdagangan, dan lain sebagainya. Semua adalah roda-roda pembentuk sistem ciptaan revolusi industri ini.
Tampaknya otak ini berlebihan. Tapi entah mengapa cukup menyenangkan. Latteku kuseruput lagi. Lebih banyak kali ini. Aku jadi ingat tentang sistem pendidikan yang fokusnya pada menghasilkan ‘robot-robot’ yang punya emosi sebagai kelebihan. Semua institusi pendidikan ingin menciptakan para lulusan ‘siap kerja’. Sekolah jadi seperti cetakan kue dimana semua dibentuk untuk jadi sama, sesuai cetakan kue itu. Keunikan harus diminimalisasi atau dihilangkan. Standar adalah baik. Terdengar biasa saja kan?
Pikiranku mulai berlebihan tampaknya. Sungguh bodoh otak ini, saat harusnya berpikir tentang liburan, ia memilih untuk berpikir keras…
Kututup buku itu, lupakan revolusi industri untuk saat ini. (Tapi aku pasti kembali padanya.). Kutatap pemandangan luar kafe yang indah dimana rumah-rumah klasik berjajar. James juga tiba-tiba duduk di mejaku. Entah mengapa, seakan membaca pikiranku, dia berkata: “Iya, kau benar. Semua rumah itu adalah hasil revolusi industri yang mengerikan itu. Kafe ini juga. Dilematis bukan? Tidak bisa tidak.” Aku hanya bisa mengangguk pelan sambil akhirnya menyeruput habis latte ku. Aku jadi curiga James adalah keturunan James Watt sang penemu mesin uap. Atau dia reinkarnasinya. Sungguh otak ini berdosa berpikir terlalu keras pada hari minggu…

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s