Fictionary

Retak

Hari ini agak sepi, dalam pikir maupun di luar dunia. Ada banyak suara yang bergema dan bergaung namun aku tetap sepi. Sungguh aneh memang, tak perlu tanya kenapa. Aku tak punya jawaban karena saat ini. Ah, kau tahu saja, aku punya tapi tak mampu menjawabnya.

Kucoba putar lagu kesukaannya beberapa kali untuk meluruhkan rindu, pikirku. Ternyata itu adalah hal terbodoh yang kulakukan. Sepiku tak hilang, rinduku beranak pinak. Pernah rasakan rindu hingga sesak? Itu yang sedang kurasakan.

Kuhela nafas, sesak berkurang. Kubanting sudah hp-ku yang sedang memutar lagu kesukaan dia. Ah, iya, baiklah! iya, itu lagu kesukaan kami! Aku juga suka lagu itu. Aku juga suka buku yang dia suka. Aku suka makanan yang dia suka…. Kami punya begitu banyak kesamaan….

Sesak ini kembali datang dan mata ini mengeluarkan air. Bodoh kau mata! Bodoh! Sekali lagi kuhela nafas. Kuambil rokok terakhirku dan kuhisap.

Sisa logika akhirnya mewaraskan hidup. ‘1 ditambah 1 adalah 2’ telah kembali dalam hidupku. Rokokku habis sudah, rinduku belum. Dia padahal hanya sekilas hadir, tak sampai 1 putaran bumi pada matahari.

Baru 2 purnama kami tak bersama lagi membuatku tak sama lagi. Semua terasa sulit. Aku jadi sadar aku telah retak. Dan hanya dia yang mempunyai perekatnya. Dia, yang padanya kutitipkan segenap janji untuk tetap rindu walau tak akan mungkin bersatu.

image

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s