Fictionary

Cinta dan Purnama

Malam purnama tak pernah tertandingi indahnya. Di waktu itu ada jiwa muda dalam tenang hanya ingin mencinta. Pada tanah, mereka berjejak dan berjanji selamanya dengan yakin seakan mati hanya imaji. Benci tak terberi, hanya cinta punya makna. Diam artinya sayang, tersenyum artinya cinta. Sederhana sekali pembuatan makna emosi, saat para filsuf membuang waktu tidur untuk mencari makna emosi.
Pujaan pada purnama kembali datang. Bergulung datang bagai ombak tak ingin beranjak. Kudengar mereka memanja. Menenun kata demi memuja. Bintang menahan diri tersipu menatap mereka.
Sekali lagi, purnama adalah sempurna menurut pencinta. Mereka duduk di atas kapal kecil dari kayu jati sambil memandang sang purnama dengan bintang. Menatap purnama dan bintang, mereka bersyukur dapat bersatu. Purnama sang sempurna tak pernah menyatu dengan bintang walau mereka dekat selalu.
Mereka bersyukur dalam diam masing-masing. Hening menyimpan gaduh dalam diri mereka. Mereka ingin melompat kegirangan karena bersama bukanlah selalu perkara mudah ternyata.
Jiwa muda tetaplah muda. Renda masa depan terus terjadi. Cinta dan pesta selalu nikmat di dalam buku. Kini, mencinta tak sinonim dengan bersama, hanya ketulusan dan keberanian yang mampu menjelma bersama. Liku kata hanya hasrat percuma. Akhirnya hanya yang melakukan yang mampu menentukan.

image

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s