Fictionary / Reflection

Mencari Hati Nurani

Siang itu aku mulai berkeliling mengetuk dari rumah ke rumah, ke jalan-jalan, ke restoran, ke mall, dan tempat-tempat lainnya. Aku ingin mencari sesuatu. Aku mencari ‘hati nurani’.
Aku membawa sebuah mangkuk kosong, berharap ada yang mau membagi ‘hati nurani’nya. Aku berjalan terus karena ternyata tak seorangpun yang punya ‘hati nurani’. Mereka bilang, mereka lupa taruh dimana. Sudah lama tak digunakan.
Aku terus mencari. Di suatu rumah yang kuketuk, sang pemilik rumah tak punya ‘hati nurani’, dia menawarkan ‘ketidakpedulian’. Dia bilang dia punya banyak dan bersedia berbagi denganku. Aku tidak ambil itu. Hanya ingin ‘hati nurani’.
Beberapa tahun lalu tidak sulit meminta ‘hati nurani’ dari tiap rumah, entah apa tapi kini makin sulit. Yang makin banyak dimiliki ya itu tadi, ‘ketidakpedulian’. Tampaknya marketing ‘hati nurani’ harus berubah supaya tidak kalah oleh ‘ketidakpedulian’.
Sudah 2 minggu aku jalan tapi tetap belum menemukan ‘hati nurani’. Sepertinya ‘hati nurani’ memang sudah habis stoknya kini. Biarlah aku ambil ‘ketidakpedulian’. Toh dia lebih laku dan disukai banyak orang. Jadi pasti bagus.
Ternyata ‘ketidakpedulian’ tidak buruk juga. Aku bahagia menghabiskan ‘ketidakpedulian’ dengan menyenangkan. Bahkan lebih mudah dibanding membawa-bawa ‘hati nurani’. Aku jadi bisa tidak peduli pada temanku, pada orang di sekelilingku.
Sungguh enak sekarang. Tapi, remah-remah ‘hati nurani’ masih ada di mangkokku. Membuat aku ada rasa janggal juga saat memakai ‘ketidakpedulian’. Aku jadi bingung, mana yang harus kupilih?

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s