Fictionary

Namanya Liana

Dia masih sama seperti dia yang kulihat kemarin. Pakaian putih gading dengan sedikit variasi coklat selalu jadi pelapis tubuhnya yang mungil.
Kemarin pertama kali aku bertemu dengannya. Sepertinya dia bisa baca pikiranku waktu itu, tanpa kutanya namanya, dia memberitahu namanya. Namanya…. ah, tidak, aku tidak ingin kau tahu namanya. Kenalan sendiri saja sana. Untuk tahu namanya, aku perlu berbaring di rumah sakit sialan ini 5 hari.
Dia datang setiap sore mengecek tekanan darah dan mengingatkanku untuk minum obat. Tentunya, aku bukan lelaki bodoh yang hanya diam saja. Banyak hal lain juga yang kutanyakan padanya. Dari rumah, usia, lagu favorit, anak keberapa, dll. 1 hal belum berhasil kutanya, apakah dia sudah punya pacar/ suami.
Hei, hei. Ini tidak mudah kawan. Kau pikir mudah menahan degub jantung waktu tanganmu dipegang-pegang olehnya? Ya, tapi memang harusnya aku tanyakan.
Aku memang sudah tertarik padanya sejak pertama melihatnya, tapi semakin kami akrab, semakin menarik dirinya. Aku bertukar nomor telepon dengannya. Kadang, saat dia tidak praktik, aku menelponnya. Kami makin akrab.
Tidak terasa 2 minggu sudah aku di rumah sakit ini. Senin, Selasa, Kamis, Jumat aku bertemu dia. Aku ingin sembuh tapi bila aku sembuh, hanya bertemu dia sabtu-minggu. Aduh, berat juga ya. Dilematis sekali.
Hari itupun tiba, aku boleh keluar dari sini. Sialnya ini Rabu. Aku harus segera keluar sore ini juga. Ah, jadi tidak sempat bertemu dia lagi. Tapi dia janji akan datang dan memberi hadiah bila aku keluar rumah sakit. Aku telpon dia untuk minta dia datang. Cukup lama juga dia angkat telpon. Mungkin dia masih tidur. Aku berdoa bisa melihat dia sebelum keluar rumah sakit.
Akhirnya aku keluar rumah sakit juga. Tanpa melihat dia. Doaku tak terkabulkan. Dalam perjalanan keluar, akhirnya banyak hal yang kulihat. Ada pasien-pasien terapi, pasien yang tampak lemah sekali, termasuk aku melihat ada pasien gawat darurat dibawa masuk. Aku mengintip sebentar ke arah pasien itu.
**

Aku masih di depan ruang operasi. Hari keluar rumah sakitku menjadi hari pertamanya di rumah sakit sebagai pasien. Dia tertabrak mobil saat perjalanan ke sini. Di tangannya ada sebuah kotak hadiah. Kotak musik dengan lagu kesukaanku. Kini, ia masih di meja operasi.
Dokter sudah keluar ruangan dan mengatakan dia sudah tidak tertolong karena kepalanya terbentur hebat. Jantungku pun terasa berdetak begitu cepat. Sangat cepat.
***

Aku tak ingat apa-apa, tiba-tiba aku bangun di kamar rumah sakit. Lalu datang seorang suster. Aku tak mampu berkata apa-apa melihat suster itu sementara dia dengan lembut memperkenalkan namanya. Aku yakin itu dia. Aku sebutkan semua yang kutahu tentang dia, dia kaget kenapa aku bisa tahu. Mengapa dia hidup? Apakah tadi hanya mimpi? Atau ini yang mimpi?

image

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s