Fictionary

Sejak Senja itu,

tawa menyeruak dalam hati begitu melihat wajahnya. Sebelumnya, bidadari hanya khayal tak nyata, kini aku tahu bentuk dan wujudnya. Dia adalah bidadari yang indah dan tak tercela.
Tiap hari bertemu belum memanggil bosan padaku. Setiap bersamanya masih seperti pertama bertemu. Selalu ada kejutan baru darinya. Ingin bersamanya dalam segala keadaan.
3 purnama, sebuah tanda telah dibuat dari hati untuk hati. Semoga hal itu mampu menerangkan isi hati yang misteri.
Menunggu takkan menjemukan asal ada dia. Rindukan dia menjadi helaan nafas, tak henti walau sejenak.
Sialnya, dia mematung membuat hati menjadi linglung. Itukah tanda hatinya? Tanda yang diterima tak mampu ku mengerti. Awanpun tak tahu saat dia kutanya, dia hanya mampu diam.
Mari menanti dalam hening ini. Sungguh tak mampu aku menemukan kunci jawaban dari diamnya dia. Rindu memang tak luntur karena diam itu. Hanya, ku gelisah pada sekat-sekat rindu.
Semampu aku menahan jerit hati yang tak dapat memahami tanda. Kata sudah seharusnya jadi satu cerita yang terselesaikan. Akhirnya, ku pegang tangannya lebih erat, tatap matanya dalam, dan kucium bibirnya. Kehangatan yang kurasa. Hanya hangat. Nyaman sekali momen ini.
Kuanggap ini permulaan dari segala bahagia dan masalah. Ternyata mencari makna bukan berarti mengharap kata. Hanya dalam kehangatan ada sebuah pemahaman. Rindu takkan selesai tanpa pertemuan. Cinta takkan terungkap tanpa keberanian. Tataplah rindu dan perjuangkan cinta.

image

Courtesy of Coldplay. Taken from http://www.coldplay.com

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s