Reflection / Think Out Loud

Zombie Metropolitan

Tiap hari aku berjalan tanpa tujuan ataupun ujung. Hanya berjalan mengikuti kaki kemana, tanpa mampu menolak. Aku akan terus berjalan, oh, kadang aku berlari. Jatuhpun kualami tapi aku tetap berjalan.
Seakan aku punya pikiran, aku berusaha berpikir. Sia-sia memang usahaku berpikir. Tugasku, hanya berjalan, berlari.
Kota ini makin macet, saat macet aku akan diam dan berpi…. tidak! Aku tidak mau mencoba berpikir lagi. Itu tidak mungkin aku lakukan. Buang-buang waktu saja. Saat macet biasanya aku tetap berjalan. Entah mencari apa, entah pada tempat apa. Hanya berjalan, berlari. Untuk memberi tanda aku hidup. Padahal aku mati.
Semua kulakukan tiap hari. Hanya berjalan, berlari. Tak mampu aku melawan. Entahlah tak mampu atau tak mau. Lelah pasti, tapi aku senang dengan hidupku sekarang.
Dulu aku masih mahasiswa kritis mampu berpikir. Tapi sekarang semua sudah tak berjejak di ingatanya. Hanya untuk menandai aku hidup maka aku melakukannya. Hanya itu.
Aku hidup. Tapi tak hidup. Aku tak tahu apa itu hidup sebenarnya. Tubuhku adalah tak sepenuhnya kukendalikan. Aku adalah zombie-zombie metropolitan yang seakan hidup tapi tak yakin masih memiliki kehidupan.

image

p.s. Tribute to Kak Lina Tjindra for introducing ‘zombie metropolitan’ terms.

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s