Fictionary

Dia yang Begitu Dikenal

Dia kembali datang. Orang itu. Iya, orang itu. Saya hapal betul mukanya. Matanya. Dan bau tubuhnya yang bercampur bau alkohol. Pastinya saya hapal. Sampai beberapa bulan lalu,kami masih tercatat tinggal bersama (maksudnya, yang mencatat ya saya sendiri di buku harian saya).
Ingin apa dia kembali malam ini? Jalannya tampak duyung, pasti karena alkohol yang dia minum. Kini dia hanya duduk diam di samping saya. Dia menyelipkan rokok di mulutnya lalu memegang-megang kantong baju dan celananya mencari korek api. Sayapun memberikan korek api saya ke dia. Rokoknya menyala, saya juga menyalakan rokok saya.
Kami masih diam dan merokok. Aneh? Tidak juga. Hal ini biasa kami lakukan dulu. Duduk di teras dan hanya diam menghabiskan rokok masing-masing. Lucu ya? Ya, begitulah dua orang pendiam bersama (kata teman saya anak Psikologi, kami introvert. Tak mengerti saya, pokoknya kami memang pendiam).
Saking heningnya kami, saya cukup kaget waktu dia tiba-tiba mengeluarkan kata-kata. Dia tanya apa kabar saya. Ini sangat tidak biasa. Saya jadi agak gagap menjawabnya. Tentunya ini tidak biasa, kami tiap hari bertemu tadinya, apa gunanya pertanyaan itu?
Setelah jawaban saya, kembali hening cukup lama. Saya tidak berusaha mencari obrolan juga. Saya hanya menatap ke luar yang mulai hujan. Dia juga demikian. Dalam diam saya merasa kami berkomunikasi. Hebat ya? Mungkin itulah chemistry. Dan itu yang membuat kami bertahan sekian tahun walau sedikit komunikasi verbal.
Dia tiba-tiba mengeluarkan secarik kertas dan pulpen. Lalu ada hal yang dia tulis. Tidak begitu jelas dari tempat saya apa yang ditulisnya. Cukup panjang juga. Saya bertanya menulis apa tapi dia tidak teralihkan sedikitpun.
Akhirnya dia berhenti menulis, dan melipat kertas tadi. Kertas itu ditaruh di atas meja. Lalu dia mulai berdiri dan pamit sambil berjalan keluar. Saya tanya mau kemana tapi hanya angin yang menjawab, sementara dia makin jauh.
Ah, dasar orang itu. Dia tetap dia. Menjalani hidup seperti tak butuh orang lain. Sungguh menyebalkan.
Di meja tertinggal kertas tadi. Saya membukanya. Sebuah surat

Aku berterima kasih padamu. Kau adalah SATU-SATUnya yang memahami aku. Orang tuaku pun tidak memahamiku sepertimu.
Kau tahu? Aku sangat sayang padamu. Waktu itu aku pergi agar kau tidak makin sering kusakiti. Aku memang bodoh. Maafkan aku.
Kini aku harus pergi. Esok aku ke negara lain untuk pekerjaan. Aku ingin tak pergi kalau bisa, tapi semua hanya angan tak mungkin terpenuhi. Makanya, aku ingin melihatmu untuk sekali sebelum lama di negeri lain dalam waktu lama. ‘Perbincangan’ kita tadi menyenangkan buatku, kuharap untukmu juga.
Kuharap aku masih dapat menemuimu saat aku kembali. Teruslah jadi bahagia.
Aku akan menatapmu selalu dari langit.Seperti hujan yang dapat bertemu bumi kapan dia mau

Hujannya makin deras. Sederas air mata saya membaca surat itu. Saya bakar rokok lagi. Pikiran mendadak menjadi terbayang semua kenangan bersama dia. Detil. Membuat saya nangis sejadi-jadinya.
Haah. Saya ambil nafas dalam. Akhirnya saya bisa lebih tenang walaupun rindu masih membuat dada sesak.
Dia mungkin bukan yang pertama, entah juga apakah akan jadi yang terakhir untuk saya. Tapi dia adalah seperti kepingan yang hilang bagi saya. Kami saling mengerti dan memiliki. Itulah mengapa kami masih akan bersama. Bahkan saat sedang berpisah seperti sekarang. Saya harap dia baik saja.
Tidak lama HP saya berbunyi tanda ada yang telepon. Ternyata nomor dia. Saya angkat cepat. Yang bicara orang lain dan memberitakan kalau orang itu tertabrak mobil, luka parah, dan sedang dbawa ke rumah sakit…

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s