Reflection / Think Out Loud

Lembah Kasih, Lembah Mandalawangi

Mandalawangi-Pangrango

Senja ini, ketika matahari turun
Ke dalam jurang-jurangmu

Aku datang kembali
Ke dalam ribaanmu, dalam sepimu
Dan dalam dinginmu

Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan

Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku

Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

Malam itu ketika dingin dan kebisuan
Menyelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

“Hidup adalah soal keberanian,
Menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar
Terimalah, dan hadapilah”

Dan antara ransel-ransel kosong
Dan api unggun yang membara
Aku terima itu semua
Melampaui batas-batas hutanmu

Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup

Jakarta 19-7-1966
Soe Hok Gie

Ga terbayang impian dari tahun 2010 akhirnya tercapai akhir Juni 2014. 21-22 Juni kemarin gua ke Gunung Pangrango. Huaa…. Ga kebayang bahwa akhirnya gua ke Mandalawangi. Salah satu tempat favorit Soe Hok-Gie. ‘Lembah Cinta’ kalau kata dia. Gua sangat bersyukur sampai sana walaupun ujungnya kaki gua keseleo dua duanya.
Tulisan ini bukan full catatan perjalanannya, tapi lebih pengalaman yang paling berkesan aja dari kemaren. 🙂

PRE-TRIP
Dari trip ini gua jadi tau kalau ternyata naik Gunung Gede dan Pangrango itu susah buat didaki, bahkan mulai dari daftarnya aja. Rombongan gua aja ga bisa daftar via online karena kuotanya udah full. Dan, ternyata ada calo Simaksi (tanda ijin naik gunung)! Bukan, bukan cuma minta tolong daftarin langsung ke tempatnya, tapi ternyata juga kayak calo tiket konser. Kita bisa dapet Simaksi walaupun uda full kuota, lewat calo itu. Gokil yak. Apapun bisa jadi uang di indonesia ini. Yang butuh kontak calonya kabarin aja ya. Helpful kok orangnya, dan ga rese. Gua bayar on the spot gapapa, gausah dp.

NAIK-NAIK KE PUNCAK GUNUNG
Pendakian dimulai sabtu subuh, gua super excited! Akhirnya ya… Pertama kali gua naek gunung. 6 orang tim kemarin. Ternyata fisik gua belum sekuat itu, ditambah jumat malem gua kaga tidur dan sabtu gua ga sarapan. Alhasil, belum sampe 1KM gua uda break kayaknya karena paha gua sakit banget gitu, kram. Gua terus-terusan istirahat, ah sampe akhirnya salah satu tim kita, Pijul, bawain carrier gua. Gaenak banget gua, tapi emang fisik gua parah banget. Uda begitupun gua masih ketinggalan terus. Makasih teman-teman tetep semangatin dan nungguin. Gua suka pemandangan dan hawa hutannya sepanjang perjalanan, rindang dan segar gitu.
Minggu pagi kami summit atack, tapi sayang banget 2 orang: Alvina dan Pijul (kecapean gara-gara gua ya jul? mahap yak) sakit, jadi mau jaga tenda aja. Jadi gua dan 3 orang lain aja yang naik. Jam 4an kalo ga salah jalan. Trek awalnya ga gitu susah tapi begitu makin atas makin parah tanjakkannya. Udara juga makin tipis. Sekitar jam 7.30an sampe puncak. Setelah foto-foto bentar kami ke Mandalawangi. Iya, mandalawangi yang itu. Dari pintu masuk gua uda takjub….

image

Pemandangan dari pintu masuk mandalawangi

image

Padang edelweis dan hutan yang lumayan luas. Indah banget deh, foto gua ga mungkin mewakili.
Di sini gua takjub, kok bisa ya ada tempat seindah gini. Gua bergumam, ini adalah tempat terindah yang pernah gua datengin so far. Gua keliling-keliling nyeker. Biar lebih nyatu aja gitu ama alam ceritanya. :p Edelweiss emang indah. Tergoda emang buat metik tapi gua tau itu ga boleh.
Take nothing but pictures leave nothing but footprints, kill nothing but time

image

Sekitar 1 jam kami leyeh-leyeh dan foto-foto di sana. Kurang cukup pastinya, tapi ya kami mau pulang sore rencananya. Itu bikin gua obsesi untuk pergi ke sana lagi dan lebih lama lagi nanti di sana.

PULANG
Pas pulang, gua menemukan pelajaran paling berharga dari naek gunung ini. Sebuah nilai yang membuat gua sadar gua masih terlalu egois. Nilai ketulusan dalam menolong. :’)
Siang jam 2an kami mulai turun. Emang perjanjian yang gua usulkan sendiri, kalau gua ketinggalan, kita ketemu di pos pengecekan simaksi aja. Ya, memang betul akhirnya gua ketinggalan. Awalnya ya gua lebih lambat aja, tapi lama-lama lutut kanan gua sakit banget tiap ngejejak. Keseleo ini mah. Gua jalan pake tongkat kayu sambil berdoa kaki gua kuat terus. Haha. Jadi tambah spiritual gitu gua di gunung. Ya emang tambah kuat beberapa saat tapi trus sakitnya tambah parah… haha. Gua terus berusaha berjalan supaya temen-temen ga nunggu lama-lama banget di bawah. Tapi ya emang berat cui. haha.
Di jalan gua kehabisan air, gua coba minta ke orang lewat dan dia tanpa ragu kasih ke gua semua air di botolnya. Terharu pertama. Keliatannya sederhana ya, cuma air, tapi kan semua lagi butuh itu buat turun. Masuk akal aja buat mereka ga kasih, tapi mereka kasih tanpa ragu dan kasih banyak.
Langit uda gelap, gua tau jalan gua masih jauh tapi ya have no idea to make my walking faster. Tiba-tiba ketemu seorang akang, belakangan gua tau namanya kang galang. Dia bareng teteh Aes. (Ternyata kami ketemu pas naek, tapi gua ga ngeh karena gelap). Dia nanya kaki gua kenapa. Dia saranin gua duduk dulu biar sehatan, ngasih minum air putih, ngasih GELIGA. Trus dia ajak nemenin jalan bareng. Liat jalan gua makin berat, dia tawarin untuk bawain carrier gua. Gua mah gaenak, kenal aja kaga malah ngerepotin gitu kan, tapi emang uda berat banget ya ini, jadi minta tolong deh. Trus yauda gua jalan bareng teh Aes, kang Galang bawain carrier gua, di depan gitu jalannya. Kuat bener yak. Terharu kedua.
Ternyata memang teman pendakian tuh penting banget ya. Pas jalan ama Teh Aes, jalan gua makin cepet. Ya, masih lambat, tapi paling ga, lebih cepet dari sebelumnya. hehe. Dan tenaga gua lebih banyak, lebih jarang istirahat deh jadinya. Setelah berjuang keras akhirnya gua sampe bawah. Gua mikir kasih uang ke mereka pas sampe bawah, tapi ternyata mereka ga minta uang sama sekali, malah buru-buru pamit aja tanpa modus gitu biar dikasih pamrih. Gua baru tau dari Pijul kalau gua justru ga boleh kasih uang karena pertolongan itu pasti tulus atas dasar persaudaraan sesama pendaki. Kalau mau balas budi, lakukan hal sama ke orang lain waktu ada kesempatan.

*
Ketulusan. Itu nilai yang begitu berharga yang gua dapet kali ini. Gua jadi mikir kok gua materialistis banget ya? 😦 Ga semua hal boleh diukur ama uang. Banyak yang ga. Semua masalah ketulusan hati aja sebenarnya. Dan masih sangat banyak orang tulus. Beberapa adalah yang gua temui kemarin pas naik dan turun.
Kaki gua emang keseleo dan badan remuk, tapi semua sebanding dengan pelajaran, nilai-nilai yang gua bawa pulang dari sana. Gua jadi pengen lagi naek gunung buat belajar banyak hal lagi, dengan fisik yang lebih beres tentunya.
Terima kasih Hok-Gie sudah menginspirasi (mengundang) gua ke Lembah Mandalawangi. Sebuah tempat yang indah, secara pemandangan dan pelajaran. Semua membawa makna tinggi dan senyuman untuk menjalankan setiap langkah hidup. Terima kasih Alvina, Ray, Kia, Gun, dan Pijul karena sudah sabar nungguin jalan gua. Terima kasih Kang Galang dan Teh Aes yang luar biasa baiknya. Terima kasih semua yang ketemu di jalan naik dan turun. Terima kasih dan sampai jumpa lagi Mandalawangi.

Sebuah Angan Pembuka Jalan Untuk Nyata
Sebuah mimpi sudah jadi nyata, mengajarkan makna hidup yang hakiki. Syukur tak hanya di ujung bibir, tapi tertanam dalam dasar hati. Mimpi lain yang lebih tinggi sudah menunjukkan diri seperti matahari pada fajar merekah. Membawa harapan baru untuk diciptakan.
Sampai pada suatu tempat, tempat yang dekat pada bumi, dekat pada langit. Sebuah pengalaman bukan hanya tulisan usang tanpa makna. Ia membawa mendekat pada tulus yang senyatanya.
Kugenggam asa dan rasa cinta dari Lembah cinta, Lembah Mandalawangi ini seerat mungkin. Kuletakkan di dalam ruangan terbaik di memori agar ia tak mudah terlupakan. Kenangan berjalan dan bercumbu dia.
Mandalawangi membuka jalan untuk ribuan angan lain. Angan lain telah mengantri untuk segera diwujudkan. Untuk hidup, untuk mati, untuk semua cita dan cinta yang tak tergantikan

Advertisements

2 thoughts on “Lembah Kasih, Lembah Mandalawangi

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s