Reflection / Think Out Loud

Padre

Mukamu kini tak semuda dulu lagi. Kalimatmu tak selantang dulu lagi juga. Suaramupun kini tak sekeras dulu lagi. Fisikmu berubah, tak sekuat dulu lagi. Semua berubah. Tapi aku tetap merasakan kasih dan perhatianmu tak pernah berubah sedikitpun.
Kasihmu masih sama seperti waktu aku kecil, ketika menemaniku berkeliling kompleks sebelum pergi kerja. Kau juga tetap sayang padaku seperti ketika kau mendiamkanku ketika aku menangis. Kau juga tak berubah, tetap selalu berusaha memberiku yang terbaik, kau selalu memilihkanku makanan yang terbaik.
Ayah, aku masih ingat bagaimana setia dan sabarnya kau. Setiap aku pulang larut, dirimu tak lelah menungguku kembali di ruang tamu yang dingin. Kau pastikan takkan tertidur sebelum aku kembali ke rumah padahal ku tahu kau sudah sangat mengantuk. Sungguh saat itu aku tak mengerti. Harusnya kau tidur saja, tapi kau tetap setia menunggu, memastikan sendiri kalau aku kembali.
Maaf, yah, waktu itu aku sungguh sering pulang malam sehingga membuatmu harus menungguku hingga larut.
Aku juga masih dapat membayangkan wajahmu saat aku wisuda. Wajahmu memang lebih sering tampak keras, tapi kau tak mampu menyembunyikan haru-mu waktu aku ada di gedung wisuda dengan toga sarjana. Sebuah impianmu tercapai, melihat anaknya punya modal untuk sukses. Sungguh aneh saat itu, kau yang jarang berekspresi tampak begitu bahagia dan terharu ketika ‘GAUDEAMUS IGITUR’ berkumandang. Terima kasih ayah, kau berjuang begitu keras, mengorbankan semuanya demi kuliahku. Semuanya demi aku. Anak kurang ajarmu ini.

*
Fisikmu memang makin berkurang, tapi kasihmu tetap tak berubah setitikpun. Hingga kini, dan kapanpun kasihmu akan tetap menjadi penghangat dan penyemangat hidupku.
Kini, aku sudah ada di posisimu. Kini, aku mengerti mengapa kau melakukan itu semua. Aku selalu ingat semua kasih, perhatian, dan setiamu padaku. Kulakukan semua itu pada anakku sekarang. Kau adalah inspirasiku untuk membesarkan anak-anakku.
Memang kita tak pernah saling mengungkap rasa. Namun kupercaya kita saling mengerti. Kita mengerti karena kasihmu nyata lewat perbuatan, tak hanya di ujung lidah. Itulah yang kulakukan juga kini.
Jutaan terima kasih tak mungkin cukup untuk menunjukkan syukurku atas dirimu. Begitu juga dengan berlaksa maaf takkan cukup mengingat seringnya aku berbantah denganmu, padahal tahu kau adalah benar. Aku berharap masih punya waktu untuk terus membalas kasih dan sayangmu, walau pastinya tak akan mampu menyamai dengan apa yang telah kau beri. Kuakan terus mencoba yang terbaik.
Terima kasih banyak, ayahku, ayah terbaik.

image

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s