Fictionary

Demi Sebuah Janji

Kupikir kau akan datang malam ini. Ternyata belum, Kau belum datang juga malam ini. Jadi kapankah kau akan datang? Ah, tak usah buru-buru. tenang saja, aku akan tetap di sini. Iya, di tempat yang sudah kita janjikan.

Burung-burung mulai hinggap dan sepertinya mengejekku karena aku terus menunggu. Kurang ajar memang unggas-unggas itu. Saat nanti aku punya sayap – entah kapanpun itu – akan kutangkap dan ku goreng mereka. Tak apa, aku tak peduli walaupun diejek burung-burung itu. Aku tetap menunggu. Kau pasti datang kan? Seperti dahulu aku percaya janjimu.

Tidak banyak yang kulakukan di sini. Hanya menatap langit dan binatang-binatang. Iya, bukan bintang. Sayang sekali tak ada bintang di sini. Hanya binatang. Mereka beberapa baik padaku, ada yang memberiku makan, ada yang memberiku minum, bahkan memberiku tontonan pornografi. Iya, mereka kawin depanku. Hebat ya. Tapi aku tetap lebih ingin segera bertemu denganmu sebenarnya. Dan aku tetap di sini hanya karena kau sudah berjanji untuk datang ke sini.

Beberapa masa sudah lewat dan aku masih di sini. Masih. Tidak tahu juga berapa masa. Aku tak menghitung jumlah siang ataupun malam yang sudah lewat sejak aku menunggu. Yang kutahu, aku akan tetap menunggu sampai berapa lamapun. Alam boleh sebut aku gila, tapi aku hanya sedang menunggu kepastian. Bukankah itu biasa? Seperti ketika kita pesan makanan di restoran kan pasti akan datang juga makanannya. Sama saja. Aku juga menunggu sesuatu yang pasti. Menunggu kau. Kau adalah orang yang takkan ingkar janji. Kuyakini itu.

Ternyata aku makin tua. Penglihatanku sedikit buram, jadi tidak bisa lagi melihat siapa yang sedang kawin, apakah rusa atau kuda. Setelah kupikir-pikir lagi, sepertinya mereka bukan menghiburku, justru mereka mengolokku. Mereka sengaja kawin di depanku padahal tahu aku sendiri saja di sini sampai kau datang. Apa maksudnya coba kalau bukan mengolok? Dasar binatang kurang ajar semua. Awas kalian! Saat aku bertemu api, tamat riwayat kalian. Kau, cepatlah datang kalau bisa. Aku bukan bosan menunggu, hanya saja….. tak sabar bertemu kau. Kau takkan ingkar janji. Aku yakin begitu.

Tangan kananku tampaknya tidak dapat lagi digerakkan. Kini semua kulakukan hanya dengan tangan kiri. Tak mudah memang. Tapi aku tak mau pergi dari sini. Aku mau tetap menunggu. Kau akan datang, pasti datang. Dan aku tak mau ketika kau datang, aku malahan tak ada. Kau pasti sedih. Akupun begitu kalau itu terjadi. Janji adalah janji, tak akan berubah dan pasti ditepati. Kupegang itu.

Hei, siang ini begitu aneh bagiku. Masih siang namun mataku begitu berat ingin menutup. Tangan kiriku juga tampaknya sudah tak mampu bergerak. Mungkin aku butuh tidur siang sebentar. Saat kau datang aku akan bangun. Tidak apa-apa kan? Sebentar saja, dan aku tak akan kemana-mana. Jangan ragu bangunkan aku saat kau datang. Sudahlah. Aku tak perlu pura-pura lagi. Mungkin ini waktu terakhirku, maafkan aku. Maafkan aku tak mampu menunggumu di sini hingga kau datang. Maafkan aku tak mampu memenuhi janji kita. Aku harus pergi meninggalkan tempat ini. Walaupun begitu, aku tetap percaya kau akan datang ke sini memenuhi janjimu.

7023-right-here-waiting-richard-marks-with-lyrics

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s