Reflection

Amarah

Kesal itu mudah sekali muncul. Satu dua kata saja sudah dapat merajut amarah yang besar. Atau ini sebenarnya akumulasi? Karena sesudah itu muncul bayangan-bayangan kekesalan masa sebelumnya. Entahlah, yang jelas kesal.
Ingin berontak tadi, tapi tak layak dan tak bijak. Mengalah hanya demi tenang. Tak ada takut sebenarnya, hanya tak pantas kesal sesaat membuang beribu manfaat. Sebenarnya beruntung saja, kewarasan ada di tahap tinggi. Andai tidak, mungkin kini ada yang tertipu oleh kebodohan. Transaksi penghibahan jiwa pada sang bodoh hampir terjadi, tapi waras menolong. Tetaplah begitu disana hai waras.
Pada intinya, lidah ini begitu tajam. Membuat ingin berontak menghunus pedang. Lemparan kata seperti kotoran, keluar tanpa tertahan. Lalu penyesalan beriringan mendatangi. Kemudian, ‘Maaf’ sering terucap. Kadang hanya basa basi yang basi, kadang memang tulus. Hanya hati yang mampu mengenali kejujurannya.
Amarah masih begitu tinggi, kewarasan untungnya juga. Memberi makan pada amarah hanya membuat susah di ujung. Dikurung saja dia malam ini. Semoga besok tak ada kata yang lebih tajam lagi supaya tak perlu penyesalan menghampiri karena amarah tak tertahankan.

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s