Reflection

Imajinasi vs Logika

Beberapa hari ini, mimpi sedang senang datang tiap malam menemani tidur. Ada mimpi senang, sedih, menyebalkan, menakutkan, tak terduga pokoknya. Di antara semuanya, ada satu mimpi yang terkenang. Cukup berkesan hingga terkenang dan ingin diulang.

Anehnya, bukan orang itu yang diharapkan. Bahkan tak pernah diharapkan untuk datang. Tapi seperti nyata mimpi itu. Ya, tetap saja memang tak membuat rasa apapun kecuali rindu sebagai teman pada orang itu. Sialnya, dasar otak yang hobi sekali mencari makna dari simbol-simbol atau kebetulan-kebetulan, kali ini pun otak mencoba memakna mimpi. Sok jago sekali dia.
‘Sepertinya, ini tentang orang lain yang ciri-cirinya sama dengan dia.’ Begitu analisis (sok tahu) otak bagian imajinasi. Lalu otak bagian logika bertanya, ‘Siapa yang dimaksud? Bagaimana bisa orang itu ada hadir di mimpi?’. ‘Dia yang sangat jelas bayang wajahnya dan utuhnya di sini dan di sana. Ini rindu. Rindu yang tertahan pada alam bawah sadar. Tertahan oleh norma, aturan, dan segala filsafat buatan manusia lain. Percaya alam bawah sadar kan?’. Otak logika hanya terdiam sunyi. Otak imajinasi terus menjelaskan makna mimpi dan otak logika tak membantah lagi se-katapun. Belum pernah ditemui imajinasi begitu telak menang terhadap logika.

Akhirnya terdengar lagi suara otak logika. ‘Lalu apa yang harus dilakukan?’. Pertanyaan bagus hei logika. Apalah guna penjabaran imajinasi bila hanya untuk kepuasan dia saja tanpa manfaat bagi semua. Otak imajinasi sesaat menghela nafas dan berkata ‘Ungkapkan rindu. Ungkapkan lewat kata dan perbuatan. Sulit kan? Tapi dalam bayang-bayang sudah terlihat semua kelegaan yang akan dirasa bila sudah diungkapkan. Sosok dalam mimpi tak perlu disamarkan karena takut terlalu eksplisit lagi. Semua akan jelas dan bahagia ada di sana.’ Dengan cepat otak logika bicara lagi. ‘Bagaimana kalau ternyata rindu tak ada pada dia? Lalu kecewa melanda dan kesedihan menjadi teman baru sukma?’.

Cukup lama otak imajinasi terdiam. Memandang saja pada otak logika tapi tetap diam. Lagi, helaan nafas terdengar dari otak imajinasi dan akhirnya dia berkata ‘Kita tidak pernah mengetahui apa yang terpikir oleh otak lain selain kita. Hal terbaik yang bisa dilakukan saat tak tahu adalah berimajinasi. Selama imajinasi masih masuk akal sesuai maumu, semua adalah baik. Sama seperti sekarang, mimpi tadi bukan tanpa makna. Maknanya seperti telah dijabarkan dan kita telah sepakat. Lalu tindakan perlu dilakukan agar bahagia dapat datang. Tentunya, sedih dan kecewa ada di belakangnya, mereka dua sisi mata koin. Tapi, tanpa melempar koin itu, kita tak akan tahu sisi mata koin mana yang menjadi milik kita. Sedih dan kecewa karena telah bertindak telah terbukti jauh lebih indah daripada menyesal karena tak mau bertindak. Pikirkan itu, harusnya masuk akal juga untukmu. Segera pikirkan sebelum kau tak berfungsi lagi ketika rindu makin kuat dan hanya aku yang berkuasa.’ Setelah itu otak logika tak bersuara lagi sama sekali.

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s