Fictionary

Hanya Cerita Hari Biasa

Hari begitu panas, aku jadi senang berlama-lama di kafe ini. Hanya modal segelas Cappucino aku sudah 6 jam ternyata di kafe ini, dari jam 10 sampai jam 4 sore kini. Pemanasan global ini tampaknya memang membuat kafe-kafe seperti ini makin laku keras. Aku jadi curiga, jangan-jangan ada konspirasi dibalik pemanasan global, supaya kafe-kafe dan mall-mall milik pengusaha kaya makin laku. Dasar kapitalis!
Hahaha… Aku menghina kapitalis seakan aku bukan penikmatnya. Jadi ingat para penikmat pekerja seks komersil yang menghina para psk yang dinikmatinya bila sedang di tempat umum, tapi begitu memujanya bak dewi saat sedang bersamanya. Iya, munafik kalau kata orang. Ah, tapi aku tidak termasuk orang-orang itu (lagi-lagi berusaha mengelak, semakin menunjukkan kemunafikanku).
6 jam di sini tidak banyak yang dilakukan sebenarnya. Hanya mengamati manusia. Tempat ini sempurna sekali untuk mengamati orang di dalam kafe ataupun luar kafe. Iya, ada orang-orang di luar kafe di hari yang sepanas ini. Mungkin aku saja berlebihan ya? Tapi 31 derajat itu cukup menyiksa bagi tubuh eropaku ini. Ah, ya, kembali ke soal mengamati, ternyata sangat seru. Tadi ada sepasang kekasih duduk di depanku. Ya, kekasih sesama jenis. Sudah biasa kan? Yang penting sayang kan? Kekasih itu memesan Green tea dan yang satunya Frapucino. Aku tidak berminat untuk menguping apa yang mereka bicarakan, hanya saja karena jarak bangkunya cukup dekat maka aku dapat mendengar jelas percakapan mereka. Mereka membicarakan tentang pasangan gay lainnya yang sudah menikah. Mereka jadi berpikir untuk menikah juga. Yang satu panggilannya “Di”, yang satu lagi “Tom”. Tom begitu semangat untuk mengajak menyusul teman mereka, sementara Di memikirkan pendapat orang tua mereka. Tidak ada perdebatan panas, hanya diskusi yang berusaha mencari solusi, Walaupun tampaknya mereka belum mendapatkan solusinya tapi mereka santai sekali. Saking santainya, mereka sepertinya tidak sadar aku sedang menguping.

Menarik ya, banyak halangan pasti untuk mereka, tapi sepertinya mereka santai saja. Mereka juga tidak begitu mau ambil pusing pada pandangan orang tentang mereka. Kemesraan mereka tetap saja diperlihatkan di tempat umum. Tidak tampak arogan, hanya santai saja. Cuek, tapi tidak terkesan tidak peduli terhadap orang lain. Kadang kita memang terlalu memikirkan apa kata orang, sampai hidup jadi beban sendiri, tidak lepas, dan akhirnya menjadi ‘boneka’ orang lain. Kuharap bisa seperti mereka. Percakapan mereka berhenti setelah Tom mengangkat telpon dari seseorang yang sepertinya mengajak mereka ke suatu tempat. Green tea ‘Di’ masih setengah tapi mereka sudah beranjak.

Selanjutnya aku mengamati barista-barista kafe ini. Mereka tidak lelah untuk tetap tersenyum padahal beberapa pengunjung banyak bertanya dan kadang protes tidak penting, seperti, “mengapa ukuran mediumnya terlalu sedikit dan ukuran largenya terlalu banyak?”. Sungguh tidak penting saudara-saudara. Salah satu baristanya, bernama Julia. Senyumnya manis sekali. Kacamata hitamnya membuat dia tambah cantik. Hahaha. Baiklah, itu pendapatku saja. Bias pastinya.

Saat belum ada pengunjung, dia terlihat membaca sebuah buku. Ah, tidak terlalu terlihat judulnya dari tempatku. Menarik. Aku belum pernah melihat barista yang mengisi waktu senggang saat kerjanya dengan membaca, biasanya mengobrol saja dengan temannya. Hebatnya lagi, dia tetap sigap saat ada pengunjung yang ingin memesan. Sambil baca buku, minumannya adalah Ice cappucino. Sama seperti punyaku. Hahaha. Iya, aku hanya berusaha mencoba mencari persamaan di antara kami saja. Ah, sayang, sekitar jam 2 dia beranjak dari kafe itu. Ketika aku lihat keluar, ternyata dia pergi dengan BMW yang dari tadi aku penasaran punya siapa. Ternyata miliknya. WOW. Menjadi barista hanya hobi sepertinya. Memang banyak juga orang-orang seperti itu ya, sebenarnya berada, tapi bekerja sebagai pekerja biasa. Tidak untuk cari uang kuyakin. Mungkin itu yang sering disebut orang sekarang passion.

Wah, benar-benar tak terasa, sudah hampir jam 6. Kurasa aku harus pulang. Hari ini biasa saja, hanya menjadi luar biasa karena banyak hal menarik yang berhasil kuamati. Menarik adalah mengamati hal-hal sederhana yang memiliki makna dalam ternyata. Kuharap aku lebih sering punya kesempatan seperti ini, tak memikirkan waktu atau apapun, cukup menguatkan semua indra untuk mengamati keadaan dan mencari makna dari semua hal. Dan tentunya, mengamati Julia sang barista pengemudi BMW. :p

 

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s