Fictionary

Memeluk Langit

Ingat tidak waktu kecil, kita sering tiduran di padang rumput ini, tepatnya di dekat pohon oak itu? Oya, di pohon itu kita pernah menulis nama kita berdua. Masih ada loh ternyata ukiran nama kita itu – belakangan aku tahu kalau itu tidak baik karena menyakiti pohon itu, maaf ya pohon. Tak terasa ya, sudah lebih dari 25 tahun kita tidak ke tempat ini. Terakhir kita ke sini saat aku akan berangkat kuliah S2 di Jerman -berarti sudah selama itu juga aku meninggalkan kota ini. Aku bersyukur akhirnya aku bisa pulang dan ke tempat ini lagi. Banyak hal yang terjadi yang membuatku sulit sekali pulang, sudah kuceritakan di surat-suratku sebelumnya kan? Sebenarnya aku tidak menyangka akan selama itu juga tidak pulang, tapi ternyata… yasudahlah. Semua sudah terjadi, yang penting aku sudah di sini dan mengenang semuanya.

Ingat tidak, dulu kita bisa berjam-jam hanya tiduran di sini sehabis pulang sekolah. Haha. Sampai-sampai, orang tua kita mencari-cari kita kemana-mana. Zaman itu belum ada handphone, bahkan pager juga milik orang kaya. Maka, yang ada mereka berkeliling kota menanyakan ke rumah teman-teman kita. Waktu burung-burung mulai beterbangan di dekat matahari merah, kita mulai sadar bahwa sudah waktunya pulang. Sesampainya di rumah, aku cuma bilang kalau aku ketiduran di sekolah lah, mengerjakan tugas praktik di pinggir kota lah, atau bahkan mencari buku pelajaran di perpustakaan kota. Haha.. Alasan apapun supaya mereka tak tahu aku dimana. Kau juga melakukan hal yang sama ke keluargamu. Kasihan juga ya orang tua kita kalau dipikir-pikir karena hal itu sering sekali kita melakukan itu, hm, mungkin seminggu bisa 3-4 kali. Hahaha.

Ingat tidak, kita juga mencatat apa obrolan kita atau apa yang kita ingin catat di buku harian. Buku itu kita masukkan ke kotak kayu milikmu dan kita letakkan di bawah tanah dekat pohon oak, yang setiap hari kita gali saat kita datang dan saat akan pulang, kita kubur lagi. Rajin sekali ya kita dulu. Menyenangkan kalau mengingat waktu itu. Selama sekitar 10 tahun kita konsisten melakukan itu. Kamu tahu ada berapa buku yang telah kita hasilkan? Tadi aku sudah membongkar kotak kayunya, bentuknya masih sama, awet sekali. Di dalamnya, ada 40an buku ternyata. Haha. Banyak juga ya. Sayang, beberapa kertas sudah ada yang rusak dan tidak terbaca lagi tulisannya. Dari beberapa yang masih bisa dibaca, ternyata ada juga catatan-catatan yang menguak memori lama, seperti yang ini (untungnya aku yang nulis, jadi bagus juga tulisannya. :p)
Slide2Waktu itu aku ingat akhirnya kamu ngaku kalau mata bengkakmu karena kamu berkelahi dengan abangmu. Tega sekali ya abangmu, berkelahi denganmu di hari ulang tahunmu. Sekarang dia sudah jadi baik tapi, minggu lalu aku ketemu dan ngobrol banyak.

Slide1Aku sengaja tidak menulis di catatan itu bahwa itu adalah ulang tahunku. Soalnya aku sebal, kamu diam saja tidak membahas ulang tahunku. Bahkan sampai ketika kita akan pulang. Aku pikir kamu benar-benar lupa, jadi sekalian saja tidak kutulis untuk tahu kamu ingat tidak. Goresan di pohon itu juga aku buat supaya mengingatkan juga bahwa goresan itu dibuat saat ulang tahunku. Haha. Alasan yang konyol ya. Oya, tapi waktu itu ternyata kamu ingat ulang tahunku, saat jalan pulang kamu mengeluarkan kado yang sudah kamu siapkan untukku. Dasar kurang ajar.

Hm, ternyata kau tetap menulis saat aku pergi juga ya. Ah, tulisan tanganmu masih jelek saja. Haha. Daan, kau masih saja tidak disiplin menuliskan inisialmu di tulisan yang kau buat. Tulisan-tulisanmu setelah aku pergi berbeda sekali dengan surat-suratmu padaku. Ya, surat-suratmu memang kadang menunjukkan kerinduanmu padaku, tapi kok di tulisan ini kau seperti sangat-sangat kehilangan ya? Di puisi ini contohnya:

last

Ngomong-ngomong, ingat tidak, bagaimana pertama kali kita menemukan tempat ini? Ah, aku yakin kau ingat. Ingatanmu kan tajam seperti gajah atau singa laut. Ingat juga waktu aku kaget dan berteriak-teriak girang saat kau mengajakku ke tempat ini? Ini seperti surga memang bagi kita. Tempat yang nyaman, tenang, dan membuat kita nyandu kesini lagi, dan lagi, dan lagi. Pohon Oak ini kuat sekali ya, dari pertama kali kita ke sini, sampai sekarang, dia tetap kokoh, sementara kita terus menua. Iya, iya, aku yang merasa menua, aku tidak tahu apa kamu juga merasakan penuaan ini. Hahaha. Jadi ingat lagi kita sering berdebat karena aku sering kali berasumsi tentang banyak hal padahal buktinya belum kuat. Oya, saat pertama kali ke sini juga ayahku sampai hampir menelpon polisi karena aku tidak pulang-pulang sampai malam. Dia pikir aku diculik. Hahaha. Dasar ayah.

Tempat ini terlalu banyak kenangan, ingat tidak suatu malam aku pernah menemanimu tidur di sini waktu lari dari rumah sehabis bertengkar dengan abangmu? Sejuta kali kau suruh aku tidak menemanimu, dan pulang saja, sejuta kali juga aku menolak selama kau belum pulang. Waktu itu, ayahku benar-benar menelpon polisi untuk mencariku. Hahaha. Malam itu, kita pertama kali berciuman. Kau bilang itu yang pertama dan terakhir. Tentunya bohong, karena setelah itu kita melakukannya beberapa kali lagi. hehehe. Malam dingin memang bahaya ya untuk sepasang laki-laki dan perempuan.

Ingat juga tidak kalau kamu pernah bilang gini

Suatu saat. Entah kapan sih, yang pasti akan terjadi. Aku akan mencapai langit itu, lalu memeluk langit itu begitu erat, sampai tidak bisa lepas. Aku dan dia bersatu. Yang biru ya, bukan yang putih. Yang putih itu awan. Ingat itu. Hahaha. Waktu aku sudah di langit itu, aku akan mencari dimana kamu, trus aku tersenyum ke kamu, sambil pamer aku sudah di langit.

Sial kamu, seakan aku tidak bisa membedakan langit dan awan. Iya, awalnya memang tidak bisa, tapi kan sudah bisa akhirnya. Hahaha. Soal mimpimu, kupikir waktu itu kamu mau jadi pilot, tapi ternyata kamu kuliah ambil jurusan lukis. Aku tanya apa kamu tidak mau mencapai mimpimu, kau bilang tetap mau, dan pasti akan tercapai. Kutanya bagaimana, kau bilang, lihat saja nanti. Ah, aku tidak mengerti waktu itu. Kau itu memang suka sok-sok-an misterius deh.

3 tahun lalu, di Jerman masih siang, saat aku sedang kerja di kantor, tiba-tiba ada email masuk dari salah seorang teman sekolah kita dengan judul ‘Berita Duka Cita’. Karena aku sedang sibuk saat itu, aku tak hiraukan sampai aku lupa, dan besoknya baru sadar ada email yang belum kubuka. Saat kubaca email itu di kantor, aku hampir pingsan, dan akhirnya aku dibawa ke klinik dekat kantor. Berita itu benar-benar seperti halilintar di tengah siang bolong. Aku sempat tak percaya, tapi berita itu dibenarkan oleh ayahmu yang saat itu juga langsung kutelpon.

Betul nak, dia kecelakaan. Pesawatnya meledak tertembak roket karena tak sengaja melewati wilayah konflik.

Ah, mengingat itu lagi, air mataku kembali jatuh.

Kepergianmu begitu mendadak. Aku begitu terpukul saat itu, hingga aku tidak bisa masuk kantor 2 minggu lebih. Waktu itu aku benar-benar sedih. Namun kini aku akhirnya mengerti. Kau sudah mencapai impianmu. Iya, kau sudah mencapai impianmu untuk memeluk langit, menjadi satu dengan langit. Ternyata kau ingin tetap berada di langit hingga waktu terakhirmu. Kini kau sudah ada di langit, kau harus tepati janjimu untuk tersenyum padaku dari langit.

Ah, hari makin sore, aku harus pulang. Sekarang kalau aku tidak pulang, anak dan suamiku yang akan mencariku. Iya, ayah meninggal minggu lalu, menyusul ibu yang meninggal tahun lalu. Sekarang aku sudah kembali ke kota ini, jadi mungkin aku akan sering ke sini. Sambil berharap kau segera penuhi janjimu. Oya, tenang saja, aku akan mulai menulis lagi seperti yang kau lakukan waktu aku tidak ada. Selamat ulang tahun! Aku percaya kau bahagia di langit sana, peluklah iya dengan erat dan tersenyumlah padaku.Presentation2

 

 

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s