Fictionary / Reflection

Empty Nest

Ah, lagu itu lagi yang diputar. Jelas, alasan sekali kalau itu lagu favoritmu sekarang. Apa kau hapal lirik lagu itu lebih dari 2 baris? Bahkan 1 barispun tak sampai. Haha. Dari pertama aku kenal kau, tidak pernah kau suka lagu rock. Suatu hari kau pernah seperti orang gila mencaci maki waktu hampir semua stasiun tv menyiarkan lagu rock pada sebuah acara award musik. Lalu sekarang kau bilang itu lagu favoritmu? I smell a big bullshit here, dear...
Kenapa sih, kalau memang kangen tidak bilang saja kangen? Makan tuh gengsi! Aku tahu kalau kau memutar lagu itu cuma karena kau kangen pada anak kita. Terserah kau mengaku atau tidak tapi semua terlihat jelas, sayangku. Selain lagu itu, kau juga tiba-tiba membeli parfum anak kita tapi tidak memakainya. Cuma kau semprotkan di kamarnya lalu kau taruh di meja kamar dia. Mau bukti apa lagi? Apa sih susahnya mengaku?
Iya, aku tahu ini memang bukan fase mudah untuk kita. Sebelumnya, kau akan duduk manis sampai larut, setia menunggu di ruang tamu bila anak kita pulang malam – tentunya dengan gengsi saat dia pulang kau tidak bilang kau ingin menunggu dia, hanya kebetulan sedang nonton tv. Kini, tak ada lagi yang perlu ditunggu. Dulu saat ada berita politik di tv, kau akan mengeluarkan analisismu dan mengajak dia berdebat, minimal setengah jam aku harus mendengar debat kalian dari dapur. Sekarang, kau akan langsung mengganti channel waktu ada berita politik di tv.
Anak kita sekarang sudah keluar rumah dan membangun keluarga baru lagi. Kita harus belajar terima perubahan itu, sayang. Dia tidak hilang, hanya melanjutkan hidup seperti seharusnya. Aku juga sering sekali merasa rindu padanya. Kau tahu, kadang bahkan aku mengambil album fotonya dan mengenang dia waktu masih kecil, seragam putih merah, botol minum bertali di lengan kanannya. Setiap mengenang itu, pasti aku menangis dan berharap waktu berulang lalu berhenti pada saat dia masih kecil, manis, dan di dekat kita. Aku mengerti perasaanmu, sayang. Mengerti sekali.
Dulu aku pikir kita akan mampu melewati masa ini dengan baik-baik saja. Ya, sekarang bukannya tidak baik sih, hanya saja butuh waktu lebih untuk menerima semuanya. Lebihnya sampai kapan akupun tak tahu – aku yakin apalagi kau. Ingat dulu ayahmu tiba-tiba suka menulis puisi waktu awal kau pindah ke rumah ini? Aku jadi mengerti apa yang terjadi pada ayahmu saat itu. Itu yang sedang kita alami, sayang. Ini adalah sebuah siklus, siklus kehidupan yang biasa saja sebenarnya – lahir, tumbuh, dewasa, menikah, keluar dari rumah, punya anak, anaknya tumbuh, anaknya dewasa, anaknya menikah, anaknya keluar dari rumah, terus begitu. Sekarang, siap atau tidak kita harus melewati fase ini. Seperti pada fase-fase sebelumnya, aku percaya kita berdua akan dapat melalui fase ini juga. Yang pasti, seperti fase-fase sebelumnya juga, tak perlu takut untuk gagal asal selalu bangkit pada saatnya. Dan kita tetap bersama seperti pada awalnya.

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s