Think Out Loud

Mengenang Rasa Takut

Kertak gigi makin banyak. Ketakutan jadi hal yang lumrah sekarang. Anak-anak hanya tau menangis karena kerasnya suara tanpa tau kalau ada bahaya lebih besar dibalik suara keras tersebut. BUM!! Sekali lagi suara keras berbunyi dan jeritan-jeritan manusia dan anak-anak sekali lagi juga terjadi.
Manusia membakar manusia. Manusia memangsa manusia. Tidak seram lagi, pernah suatu saat seram tapi sekarang biasa saja. Sangat biasa saja, hanya seperti matahari terbit dari timur. Ingat suara tembakan tadi? Untuk banyak orang, suara itu hanya seperti suara kereta yang lewat tiap 5-10 menit. Terbiasa. Iya, telinga mereka lama-lama terbiasa dengan suara keras mortir-mortir itu. Ketakutan mereka juga tersisa sedikit sekali sekarang, mungkin sebentar lagi punah. Jangan-jangan nanti tawa akan menggantikan tangis dan kertak gigi yang punah di dunia ini.
Dulu, ingat ini dulu dan sekarang tidak lagi, malam adalah waktu istirahat dengan tenang. Orang yang sudah mengunci pintu dan jendela boleh menikmati kesyahduan malam yang sunyi. Sekali lagi, itu dulu, sekarang tidak lagi. Kondisinya sekarang manusia tidak kenal pembagian pagi untuk bekerja dan malam untuk istirahat. Semua berubah karena malam juga tak mampu lagi memberikan jaminan nyenyaknya istirahat pada manusia yang tersisa. Dentuman roket bisa saja membuat orang yang sedang bermimpi, terus bermimpi sampai neraka atau surga bila ada.
Bila mengetahui kondisi seperti ini, tentu para pengajar di sekolah yang pernah mengajar tentang moral akan kecewa. Kecewa karena harusnya dari dulu mata pelajaran moral diganti dengan mata pelajaran ‘menyelamatkan diri’ yang ternyata lebih berguna sekarang. Moral itu juga telah jadi masa lalu. Kejayaannya berabad-abad sudah berlalu, diganti dengan ‘bertahan hidup’.
DUM!! Sebuah roket menghancurkan rumah lagi, anak selamat karena sedang digendong bibinya di jalan, tapi ayah dan ibunya tak akan menemuinya lagi. Dia akan tumbuh tanpa ayah dan ibu. Keadaan tak pernah makin baik, hanya ada makin buruk. Awalnya, agama menjadi kambing hitam semua ini, ternyata agama tak bersalah. Agama hanya sebuah peluru yang tak mampu apa-apa selain melukai saat pelatuk ditekan. Kini agama tak diperlukan lagi untuk jadi kambing hitam. Tak perlu ada lagi yang jadi kambing hitam, segala keinginan bisa terjadi tanpa perlu alasan. Bahkan membunuh juga tak perlu banyak alasan. Ingin saja lebih dari cukup.
Tidak lama lagi semua akan berakhir. Pasti berakhir saat semua manusia habis. Sepertinya tidak lama. Senjata semakin canggih, sekali tembak setengah kota hancur saat itu juga, penduduk setengah kota sisanya mati pelan-pelan terkena radiasi nuklir. Selain itu, makanan dan air bersih juga makin sulit. Hewan juga banyak yang mandul. Daging makin langka. Akan habis juga semuanya. Semua, termasuk manusia. Pernah beberapa agama memberitahu kalau akan ada kiamat. Mungkin itu sebuah rangkaian proses, bukan 1 peristiwa. Untuk sampai ke detik terakhir, semua harus terus begini. Tak berhenti hapus rasa takut dan rasa kasihan untuk lenyapkan sesama sambil mengucapkan sampai jumpa di detik terakhir.

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s