Random

Sendu, Marah, Malas

Sendu adalah teman bermain malam ini. Seperti pujangga, kata-kata puitis ditebar, karena sendu. Sekali lagi sebuah kesenduan dan hanya kesenduan. Bersamanya ada keinginan berteriak, menangis, dan menghardik pada bayangan saja. Cukup! Semua telah terlalu dalam menjadi luka. Luka menganga yang membuat kesedihan, kesenduan.
Aku marah pada dia. Dia adalah aku yang tak berharap pada kenyataan. Dia adalah aku yang selalu senang mencari kepalsuan. Bagaimana mau hidup bila semua menjadi palsu saja. Langit cerah juga akan tersapu awan gelap dan tetaplah gelap. Lengkap sekali semua jadi teman akrab kemarahan. Detik ini juga ingin ada barang yang hancur demi kepuasan hati. Bunyi prang, preng, prong jadi begitu merdu saat ini, seperti nyanyian biduan pada masa jayanya.
Di sini, berdiri aku yang sendu, marah, dan malas. Iya, selain sendu dan marah, pada saat ini aku ada pada tingkat kemalasan hampir tak terampuni. Malas pada semua. Inginnya hanya tidur saja. Oh, tidak. Mungkin awalnya rentangkan kaki sejauh-jauhnya, lalu menghirup udara bersih pinggir kota, baru tertidur di rumput hijau seperti tuhan yang bebas mau apa saja. Kemalasanku entah disadur dari mana. Rasanya malas saja. Pernah merasa begitu?
Ketiganya muncul karena rintangan. Semua rintangan itu ada batasnya. Batasnya adalah diri sendiri. Pikiran yang akan menentukan sampai kapan ingin dihadang. Hahaha. Seakan diri ini dewa yang bisa menentukan. Sadarlah jiwa, kau hanya budak keadaan. Persetan kata-kata ‘Pikiran positif mendatangkan kebaikan’. Bilapun iya, itu hanya sebuah kebetulan seperti setrilyun kebetulan lainnya di dunia ini. Aku sendu, marah, malas. Ini aku, tritunggal.
Ngomong-ngomong, berkata apapun kini sudah tak berarti. Aku sudah tahu semua. Aku sudah mampu baca pikiranku sendiri. Dia mengungkapkan apa yang aku mau. Beda dengan yang pernah diceritakannya. Ah, aku saja yang salah tangkap mungkin waktu itu. Kini semua jelas. Kini, tinggal bagaimana membawa semua lamunan di pikiran menjadi nyata. Senyata-nyatanya yang ada.
Aku merasa sendu, marah, dan malas. Di antara ketiganya malas yang paling dominan. Dia adalah akibat dua yang di awal. Makin lama jadi makin sangat terasa. Aku merasa terpuruk kini karena ketiganya, kumohon segeralah berganti jadi masa lalu. Segera. Masa lalu. Sekali lagi, segeralah karena tidak banyak lagi sisa energi yang ada sebelum aku hanyut dalam ketidakmampuan untuk berdiri sendiri. Aku tahu waktuku tak lama lagi di sini. Sekejap saja, hilang sudah semua ini dan semua rasa akan ikut hilang, ganti asa yang berpaut pada bahagia, sabar, dan rajin. Tunggulah itu. Sementara itu, biarlah sendu, marah, dan malas berleha-leha di jiwa ini.

image

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s