Fictionary

Terbangun

Mata telah tertutup malam ini sampai ketika datang sebuah bayangan masa depan. Seribu ‘what if’ dan ‘i shoud have done’ berkeliaran di otak. Semua itu memaksa mata terbuka. Aku menatap langit-langit saja, sementara bayangan keinginan, harapan, penyesalan, kebanggaan masih bergantian menguasai alam pikiran.
Secara acak bayangan itu berhenti di titik terindah yang pernah ada. Ketika kau masih ada. Kita masih bersama, duduk tak berjarak di sore hujan menikmati teh kita. Tiba-tiba aku tersenyum mengingat itu. Bahagia sekali saat itu. Kita baru menikah dan aku menang lotere sehingga kita tak perlu lagi bekerja untuk sesaat. Siang dan malam terasa begitu dekat, seakan mereka satu saja.
Mataku masih hanya menatap langit-langit kamar ini – yang sepi tanpa dirimu. Ingatan tadi membawa temannya, aku jadi ingat waktu pertama kita tinggal di rumah ini. Semuanya tampak nyaman, indah, dan sempurna. Kau memasakkan bermacam-macam makanan tiap hari. Tidak pernah luput, teh manis hangat kesukaanmu. Kita hanya berdua, tak peduli apapun asalkan tetap berdua. Masa itu, rasa bahagia ketika itu, tatapan matamu, senyumanmu, semua begitu indah.
Detik ini kucoba palingkan kepala ke kanan sambil berharap bisa kembali tidur. Di kanan ada pemandangan yang membuatku pasti akan tambah lama untuk dapat lelap kembali. Foto kita waktu di Eropa, di depan Eiffel yang termahsyur. Setelah berfoto, di sini kau bilang ‘Tiap kali foto ini terlihat, artinya aku juga sedang bahagia. Dimanapun aku berada’. Aku yakin sekarangpun kau sedang bahagia di manapun dirimu.
Pada akhirnya, mata ini tertutup dan hanya kau yang terlihat. Senyummu yang manis terlihat nyata sekarang. Begitu terasa nyata hingga aku dapat menyentuhmu. Sungguh aku rindu dirimu. Kita bercengkerama di bayangan itu. Begitu asiknya dan nyata. Kau bercerita tentang sebuah desa yang jauh. Orang-orangnya senang bertani. Lalu kau ajak aku ke sana. Hari masih pagi dan kami duduk di saung tengah sawah. Setelah tiduran sebentar di sana, lama-lama panas juga ternyata..
Mataku terbuka. Sekilas cahaya matahari terlihat dari kamarku. Sudah pagi rupanya. Mimpi saja ya tadi? Sayang sekali, padahal aku harap kau benar-benar hadir dan memanggil namaku lembut sambil berkata….
‘Teh manismu sudah siap sayang.’

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s