Fictionary

Tak Boleh Mencinta

Berpisah memang bukan hal favoritku, bahkan adalah hal yang paling kubenci. Andai ia orang, mungkin sudah kubunuh dengan kejam. Aku tahu kini memang kita belum berpisah, tapi kata ‘akan’ selalu ada di setiap kalimat kita yang mengandung unsur perpisahan. Pastinya tak mudah untuk mengubah dari ada jadi tiada. Apalagi ada itu telah mengakar begitu kuat, hingga dalamnya menancap di dasar hati. Ketika tiada itu tiba waktunya, siapkah aku?

Pertanyaan itu terus muncul di kepalaku saat mengingat kita akan segera memilih jalan masing-masing. Kau bilang tiada itu hanya akan sementara, aku bilang saat tiada muncul, ia akan ada untuk selamanya. Kuyakin juga kau tahu, tiada itu untuk selamanya, tak ada jalan kembali. Kita tahu itu, tak perlu kita mengelak, tak perlu kita menyangkal. Semua sangkalan hanya membuat kita makin sakit nantinya. Mari akui ini.

Aku tahu aku ternyata tak sekuat itu ketika air mata ini mulai mengalir tanpa dapat aku sadari. Waktu kita ada benar-benar tak lama lagi ya? Hela nafasku makin berat mengingat itu. Ingin rasanya kugenggam tanganmu, kupeluk erat tubuhmu, dan kucium bibir munglmu. Aku ingin menjaga kau tetap ada. Semua hanya seperti khayalan. Pada akhirnya, hanya membuat dada ini makin sesak membayangkan bahwa bayangmupun akan lenyap sebentar lagi, sekejap saja. Tidak, aku tidak siap. Haruskah ini kita lalui?

Kata-kataku tidak beraturan, ya. Semakin lama semakin seperti orang meracau. Aku sangat gundah. 3 malam sudah aku tak bisa tidur. Aku tak ingin aku tidur dan ketika pagi menjemputku, waktu itu benar-benar datang. Aku ingin semua berhenti dan kita tetap bersama, walau hanya bayang-bayang. Sial memang aku terlambat. Aku terlambat untukmu, kita tak punya kesempatan. Kembali air mataku menetes, membayangkan masa saat ‘kita’ ada. Bukan hanya kau atau aku, tapi kita. Kita begitu nyata, dekat, erat, nyaman.

Sebenarnya, kita ini apa? Pecinta? Tidak juga. Kenapa kita (aku) begitu takut kehilangan kalau gitu? Bukankah semua wajar ketika kenalan hilang pada waktunya? Apakah ini cinta? Kuyakin tidak. Cinta tidak begini terakhir yang kutahu. Lalu ini apa? Aku begitu nyaman denganmu, aku begitu takut kehilanganmu. Aku khawatir saat kau tak dapat dihubungi, aku gusar saat kau tiba-tiba menghilang sesaat. Apa sebenarnya ini? Bisakah kita sebut saja cinta? Tapi ini begitu bahaya bila disebut cinta. Sangat bahaya. Kau dan aku tahu bahwa kita tak boleh menjadi pecinta. Tak boleh. Bukan tak bisa, hanya tak boleh.

Aku ingin kau ada. Aku ingin kau nyata. Aku ingin kau dekat. Aku terbiasa ada kau. Terbiasa membelai lembut rambutmu. Terbiasa menatap senyummu pada lawakan tak lucuku. Terbiasa merangkulmu saat kepalamu bersandar pada bahuku. Terbiasa menggenggam tangamu. Semua jadi sebuah kebiasaan. Aku nyaman ada kau. Mungkin itu cinta. Aku tak tahu, tapi kuharap bukan. Lagi-lagi, karena kita tak boleh mencinta. Hanya boleh terbiasa ada…

Image taken from http://www.ceritamu.com

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s