Fictionary

Terakhir

Sore hari di awal bulan. Berdiri 2 anak manusia yang terlahir berlawan jenis di atap gedung 3 lantai. Sebuah rindu yang teramat sangat yang membuat mereka di situ. Keduanya menggenggam rindu yang dipegang erat. Kedua telapak tangan mereka bersatu lewat sela-sela jari berharap rindu saling terbagi.
Matahari senja membuat mereka makin terbuai nuansa rasa rindu. Senyum manis selalu muncul pada setiap kesempatan kedua mata mereka beradu. Mata mereka menyiratkan makna dalam dan tersembunyi di balik senyum yang meluncur. Entah apa, tapi ada hal tersembunyi pasti.
Pegangan tangan makin erat seakan takut terpisah. Iya, sepertinya takut terpisah. Mereka sepertinya menahan sesuatu. Sang pria berkata,
‘Terakhir ya…. Ini terakhir. Akhirnya sampai juga waktu berpisah ini. Senyumanmu hari ini lebih indah dari biasanya’

Sang wanita tak bicara, hanya meneteskan air mata, menggenggam erat kedua tangan sang pria. Ada kekhawatiran mereka akan terlepas, jelas sangat. Sang pria juga tak mampu berkata lagi. Bahasa pelukan tampaknya menjadi bahasa yang mereka mengerti.

Terpisah adalah sakit karena melawan kehendak insan yang ingin menyatu

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s