Reflection

Di Ujung Jalan

Beberapa tahun ini, waktu seperti mesin treadmill yang kecepatannya diatur supaya semakin lama semakin cepat bagiku. Memaksa kaki-kakiku berlari lebih cepat, mengaburkan fokusku pada apapun, hanya berusaha sekuat tenaga untuk mengikuti kecepatan waktu. Ketika aku berhasil menyesuaikan diri, dia makin cepat. Belum sempat aku menikmatinya, kembali aku dipaksa menyesuaikan dengan kecepatan yang baru. Hanya berlari. Itu yang kurasa.

Akhirnya 1-2 bulan terakhir, aku tak peduli pada waktu dan mencoba bergerak semauku. Aku berusaha menahan dia supaya tidak lari, aku coba melambatkan lariku untuk menikmati ritme ini. Aku jadi bisa mulai berpikir tentang banyak hal lagi. Tentang diri, sendiri, bersama, mengapa, dan bagaimana. Semua terbalut indah dalam rangkaian awan pikiran yang menghampiri pikiran yang akhirnya sempat, akhirnya lekat, akhirnya tak penat.

Dengan kesadaran penuh aku jadi berhenti sebentar untuk maju dan mencoba untuk melihat apa yang telah terjadi kemarin, minggu lalu, bulan lalu, tahun lalu, atau bahkan sewindu lalu. Ingatanku, yang biasanya lemah ketika mencari kunci rumah yang hilang, tiba-tiba mampu mengingat dengan sempurna kata demi kata yang terucap masa itu. Imaji yang jelas terbentuk di pikiran untuk menyempurnakan refleksi hidup, yang selama ini terus hanya berlari dan berlari tanpa peduli arah, atau bahkan tujuan. Terus berlari demi bertahan hidup saja ternyata yang telah aku lakukan. Setelah aku ingat, aku pernah punya tujuan untuk dicapai. Tujuan yang kini ternyata sedikit melenceng sehingga aku harus berhenti untuk mencoba memperbaiki arahnya.

Tujuan ini sebenarnya tak pernah berhenti bergema sepanjang aku berlari bersama waktu. Suara-suara jeritannya sungguh jelas di telingaku setiap aku mulai lelah. Tololnya, ternyata aku tak berlari menuju dirinya. Aku berlari tanpa arah dan hanya berharap itu arah yang benar. Tak kusadari, semakin aku berlari, semakin lebar jarakku dengan tujuan itu. Suara jeritannyapun makin keras, membentuk ilusi dalam pikiranku seakan dia makin dekat. Ternyata itu karena semesta berusaha mengingatkanku bahwa aku menjauh. Sungguh bodoh.

Kini aku tak punya waktu untuk mundur atau memandang ke belakang. Aku percaya, ada tuhan dalam semesta ini makanya aku bisa maju dan terus maju mengarah ke arah yang kupercaya sudah benar kini. Teriakan-teriakan itu kini ganti panggilan lembut. Gemanya masih sama kuatnya, aku tetap terhenyak setiap mendengarnya. Setelah ini, aku akan melihat sekeliling, mencoba mengumpulkan tenaga dan semangat untuk kembali lari, kini dengan kecepatan yang tak akan dapat dikendalikan oleh waktu lagi. Balik aku yang mengendalikan waktu. Seharusnya begitu kan?

Persiapanku memang masih jauh dari cukup. Aku butuh ini, itu, dan lainnya untuk kembali berlari. Yang paling penting saat ini, aku mau memandang ke depan dan menyebarkan fokusku ke seluruh tubuh, bukan hanya kaki. Biarlah kaki di bawah ini mampu berhubungan dengan erat dengan otak di atas supaya setiap langkah yang kuambil tak jadi sebuah sesal pada akhir sebuah cerita hidup yang tak jelas kapan.

**

Tak banyak harapku, hanya mencapai tujuan itu. Dan juga ada kau saat aku ada di ujung jalan itu. Kuharap kau paham dan bersedia menggenggam tanganku selalu.

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s