Reflection

Mengajar atau Belajar

Jumat sampai Minggu lalu gua dapet kesempatan untuk bantu-bantu di youth camp-nya yayasan kdm (yayasan yang bergerak untuk menolong anak-anak marjinal). Gua sangat excited ikut acara ini karena emang gua senang dengan kegiatan yang membantu anak-anak marjinal dan trainingnya keliatan well-prepared, jadi pasti menarik.
Peran gua di sana adalah sebagai fasilitator kelompok, bertugas untuk membantu mereka berdiskusi dan belajar. Menariknya, apa yang gua rasakan kayaknya kebalik. Kayaknya justru gua yang belajar banyak dari mereka. Mungkin (semoga gua salah) masih banyak orang yang anggep mereka anak buangan, ga punya masa depan, ga punya aturan, atau segala cap jelek yang nempel buat mereka. Akan tetapi, gua selalu berusaha melihat mereka sebagai anak yang sama dengan anak-anak lainnya, hanya kesempatan mereka yang kurang. Camp kemaren kembali buktiin kalau emang mereka anak-anak yang sama, bahkan lebih baik dari anak-anak lainnya.
Di sana, gua belajar tentang kedisiplinan dari mereka. Memang masih kadang kala mereka juga melanggar aturan, tapi gua takjub mereka tetap berusaha menjalankan apa yang diajarkan walaupun sedang di luar asrama mereka. Jadi ceritanya begini, gua tidur sekamar dengan 5 adik cowok. Karena disuruh kumpul jam 6 pagi, maka gua pasang alarm jam 5.30. Yang terjadi adalaahh… Jam 5 pagi itu kamar udah hampir kosong, tinggal gua doang. Mereka uda pada mandi (at least cuci muka). Daaann… Yang bikin gua malu adalah, kasurnya uda rapih kayak semula. W.o.w. Kayaknya, hal simple kayak gitu bisa diitung jari deh gua pernah lakuinnya. Simple memang, tapi buat gua itu bukti mereka punya disiplin yang baik. Ga ada yang nyuruh mereka looh.
Hal lain yang juga gua pelajari adalah semangat untuk menjalani hidup. Gua kayaknya paham rasanya jadi orang yang susah secara ekonomi, tapi gua yakin gua ga akan paham rasanya jadi anak-anak ini yang masalahnya bukan cuma ekonomi. Ada yang dari umur sangat kecil uda di jalan, merantau dari bandung ke jakarta sendirian bahkan, tanpa orang tua. Mereka masing-masing punya cerita susahnya masing-masing. Buat gua, mereka punya puluhan alasan logis untuk mengeluh dan tenggelam dalam frustasi terus menerus. Yang gua liat kemarin berbeda. Mata mereka memang mensiratkan kepedihan akan hidup mereka, tapi juga harapan akan kehidupan yang lebih baik. Mereka tetap berharap dan bermimpi. Itu yang membuat mereka tetap hidup. Gua, kadang gara-gara batere hp abis aja kesel, sementara mereka yang sempat rasain kerasnya di jalan pada saat usia anak-anak tetap semangaat. Lagi-lagi, malu!

Jadi sebenarnya siapa yang belajar, siapa yang mengajar?

Buat gua, berinteraksi dengan mereka membuat gua tetap tahu apa peran gua di hidup ini. Dan juga supaya gua tetap mengisi hidup ini dengan baik walau kadang terasa berat. Semangaat!!!!

image

Some of them....

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s