Fictionary

Terpuja Hati

Dan kini adalah semburat wajahmu yang membuatku diam dan tak dapat berucap, hai terpuja hatiku. Aku hanya mampu menatap dan tetap memuja. Buyar sudah semua rancangan kata yang berjam-jam kususun untuk kunyatakan saat kita berjumpa kini.

Katamu, kau rindu. Akupun demikian, aku mungkin lebih rindu bahkan. Hanya saja, aku tetap diam kini. Sungguh aku tak dapat membuang ratusan kata yang sudah kuhapalkan itu. Bangke! Sebodoh  itu, aku. Kau terus melempar kata dan senyummu makin membiusku. Tak mampu aku berhadapan denganmu lagi. Hanya diam.

Akhirnya, aku pegang pelan tanganmu, kucium tangan lembutmu itu. Sudah. Kutatap matamu. Kukecup keningmu. Kupeluk tubuhmu. Tetap aku tak mampu berucap. Hanya itu yang mampu “kukatakan” untuk menyelesaikan semua tentang kita ini. Maafkan aku terpuja hati.

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s