Fictionary

Ketika itu,

Aku membawa segenggam kegundahan ini begitu lama. Kupikir akan hilang begitu saja dalam sesaat. Ternyata kenyataan itu khianat pada pikiranku. Aku menenteng gundah ini terus jadinya.

Belum gundah ini hilang, kini datang sebuah risau. Apapun itu, aku tak suka mereka. Sedetik datang lalu menjadi bagian pengganggu baru tambahan dalam hidupku. Brengsek. Itu umpatku, hanya lama-lama aku paham mereka seperti apa.

Gundah dan risau itu adalah kedua matamu ketika kita bersama. Kenapa? Apa pembuatmu gundah dan risau? Aku ingin menjerit dan bilang sudah, sayang. Sudah! Aku tak akan bergerak. Mengapa kau masih gundah dan risau?

Kutatap nanar mata risaumu itu. Kaupun hanya terpaku dan gundah. Masih, kugenggam gundah dan risau itu. Entah sampai kapan keduanya akan hilang. Atau tiada hilang memang mereka hingga akhir…

Apapun itu, izinkanku mencium bibir manismu itu sekali lagi. Mungkin dengan itu, semua bisa hilang. Lenyap dan tak tersisa. Bisikkanku bila kau mengizinkanku. Aku hanya ingin membuang resah dan gundahmu, sayang.

Semoga aku bisa.

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s