Fictionary

Tenang

Anak itu terus menari dengan indahnya. Dendang lagu pemusik terus mengiringnya juga. Aku menonton dari belakang tapi untunglah cukup jelas dapat melihat liak liuk geraknya.
Mataku begitu tertuju padanya, anak itu begitu manis dan pintar menari. Hal itu membuat memoriku melaporkan seseorang dari masa lalu. Tak lepas mataku untuk memandang setiap tarian anak itu. Luar biasa tariannya.
Tarian pertama selesai, ternyata ada lagi tarian kedua. Aku begitu terpesona. Tapi ternyata, di baris depan aku melihat ada seorang dari masa lalu tadi. Bagaimana bisa? Mungkin hanya halusinasiku. Tapi kurasa itu begitu nyata. Tak mungkin aku salah. Kucoba maju untuk mendekat padanya. Makin nyata dia adalah nyata.
Tarian kedua selesai, penonton bertepuk tangan, sementara aku terpana menatap senyum riangnya sambil menepuk tangan. Kusebutkan namanya dan dia menengok spontan ke arah mataku. Tawanya berubah jadi kaget seketika.
Kami saling menatap begitu lama sampai akhirnya dia kembali pada pandangannya ke anak penari. Aku berusaha mendekat padanya. Hanya saja ternyata sulit karena orang begitu ramai. Dia tetap fokus ke depan. Tak mungkin ia tak kenal aku.
Pentaspun usai dan aku berusaha mendekat padanya. Ia tak peduli padaku. Ia hanya diam dan terus berjalan. Sesaat sebelum dia makin jauh, dia berhenti dan berbalik melihatku.
Tak kusangka itu terakhir kali aku memandang matamu. Kau takkan pernah kulihat lagi. Kupikir kita saling berguna. Seperti matahari dan gunung… Tenanglah dimanapun kau berada

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s