Fictionary

Cinta Raya

Mataku seperti tak ingin terpejam malam ini walau malam makin khusuk terjadi. Kita berbaring samping-sampingan, tangan kita menggenggam. Kata orang, kita adalah pasangan. Menurutku, kita adalah keping pelengkap. Menurutmu, kita adalah petualang kehidupan yang dipertemukan oleh semesta.

“Menurutmu, mengapa manusia mencinta?” Aku terpikir pertanyaan yang begitu filosofis itu dan spontan saja melontarkannya.

Genggaman tanganmu makin erat lalu wajahmu kau hadapkan pada wajahku. “Berapa lama kau hidup? 27 atau 28 tahun? Menurutmu, masih penting kau bertanya alasan mencinta?” Tanyaku kau jawab dengan tanya lainnya.

“Penting. Jadi aku tahu motivasi orang yg mencintaiku.” Aku berusaha menjawab dengan yakin.

“Kupikir kau cerdas. Jatuh cinta membuatmu bodoh. Semakin kau bertanya, semakin jauh kau dari penemuan akan jawaban alasan mencinta itu. Alasan mencinta sudah terbukti sulit untuk dijelaskan secara logis, sayang. Cinta adalah cinta. Dia adalah sebuah emosi mahakompleks yang terberi pada setiap makhluk. Kita hanya makhluk kompleks, karenanya mencari alasan cinta adalah kesia-siaan. Tidak penting sayang.” Penjelasanmu cukup panjang.

Aku berusaha mencerna lagi kata-katamu. “Lalu apa yang harus dilakukan pada cinta?” Pertanyaan aneh lain tiba-tiba terlontar.

“Sepertinya anggur tadi membuatmu sedikit mabuk ya sayang. Cinta harus diapakan? Ya dinikmati saja. Dirayakan. Selama dia masih cinta, dia akan memberimu rasa senang, sekaligus takut, sekaligus sedih. Semua campur aduk, lagi-lagi dia adalah emosi mahakompleks. Mengapa kau mencoba melogiskan ketidaklogisan alami itu?” Lagi-lagi kau menjelaskan dengan begitu singkat namun dalam.

“Mengapa ada emosi negatif juga dalam cinta? Bukan hanya senang saja?” Aku masih menyangkal segala rasa dengan rasio yang seakan benar.

“Cinta adalah emosi mahakompleks. Bukan hanya positif… Dia juga bisa jadi kecemasan. Cemas akan kehilangan orang yang dicinta. Bisa juga sedih. Sedih ketika cinta dipaksa harus berhenti. Atau marah. Ketika cinta namun tak berbalas. Banyak sayang. Kita tak perlu memikirkan cinta itu bagaimana. Tak penting juga mendefinisikan cinta. Yang penting adalah merasakan keberadaannya. Aneh memang merasakan keberadaan tanpa dapat mengetahui bagaimana cinta itu. Cinta itu personal sayang. Tiap orang menakar cintanya masing-masing. Dan mengimplementasikannya masing-masing juga. Tak ada benar atau salah. Yang ada hanya menerima keberadaannya atau tidak. Semoga kau selalu menerimanya.” Jawabanmu tetap tenang padahal aku mulai bawel.

**
Akhirnya aku tak bertanya lagi. Kita berhubungan seksual setelah itu. Kau dan aku bersatu berusaha mencapai orgasme yang katanya adalah puncaknya. Kita berhasil malam itu. Mungkin itulah cara merayakan cinta buat kita malam itu. Entah besok pagi bagaimana lagi. Tapi hidup adalah memang untuk merayakan cinta tanpa terlalu banyak mempertanyakannya.

Terima kasih sayang.

image

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s