Fictionary

Pergi Dalam Hujan

*
Aku bangun dan masih hujan juga hari ini. Sudah 7 hari hujan tak berhenti, oh dia sempat berhenti di hari ke 4 atau 5. Iya, dia berhenti sekitar 2 jam, tapi kemudian datang lagi. Hujan dan hujan, suhu jadi dingin sekali, mungkin seperti saat bersalju. Hanya mungkin, karena aku tak tahu seperti apa bersalju itu… Yang kuyakini, salju itu dingin (ibu guru menceritakannya demikian dengan begitu yakin. Aku percaya padanya).

**
Karena hujan ini, aku tak dapat bermain. Sekolah juga libur. Tidak liburpun aku tak masuk. Aku memang tidak sekolah lagi sejak tiga tahun lalu. Aku dikeluarkan dari sekolah. Oya, waktu itu juga musim hujan. Seperti sekarang. Hujan tiap hari. Aku dikeluarkan dari sekolah ketika hujan sedang deras-derasnya. Sepeda yang kukayuh dengan susah payah akhirnya sampai ke sekolah. Tapi sebelum aku duduk di kelas, Pak Jo bilang aku tak boleh sekolah lagi karena tidak mampu membayar. Aku saat itu senang sekali. Aku lanjut main hujan. Saat pulang ke rumah, ayah ibu malah menangis. Aku juga jadi sedih, tapi tak begitu paham sebenarnya kenapa harus sedih? Aku kan masih hidup walau tak sekolah.

***
Hujan hari ketujuh adalah pencapaian baru bagiku. Terakhir hanya 6 hari. Ini 7. Bayangkan! Kalau besok dia 8, pasti lebih spektakuler. Ah, tapi aku tak boleh main di luar waktu hujan sekarang. Katanya, airnya terkena limbah, jadi bahaya. Aku kali ini tidak begitu percaya omongan orang-orang. Ingin rasanya membuktikan apakah limbah ini benar ada atau tidak, tapi semua melarangku. Aku hanya boleh berteriak dalam kaca kamar. Atau mencoret-coret dinding. Mereka bilang, aku gila. Aku sih tak peduli. Yang penting aku hidup dan bisa main.

****
Ibuku datang membawakan makanan yang berbeda lagi siang ini. Hei, iya aku bangun siang menurut jam di kamar. Aku tak dapat membedakan pagi siang sore malam dari warna langit lagi sekarang. Sebab mereka sama sepanjang hari. Gelap karena mendung. Makananku kali ini adalah nasi agak keras, sayur bayam, dan baso ikan favoritku. Aku tak paham sih, kok ibu bisa dapat makanan yang berbeda tiap hari. Bagaimana belanjanya di tengah hujan begini. Aku saja tak boleh keluar.

*****
Menurut jam di kamarku, sekarang malam. Walaupun tak ada bintang, tapi aku yakin jam tidak akan bohong. Dia kan sahabat setiaku. Tidak berhenti juga hujan ini. Kepalaku jadi membayangkan kalau dulu aku punya teman namanya Pomi, dia cantik menurutku. Menurut teman-teman yang lain, dia menyeramkan karena pipinya besar sebelah. Aku tak paham dia begitu senang bilang dia tidak secantik dan sepintar teman-teman yang lain. Dia bilang dia harus seperti si A atau si B. Berteman membuatnya jadi membandingkan. Bukan untuk mengajak bermain. Lucu dia.

Aku lelah sekali sekarang. Tiba-tiba ibu dan ayah menggoyang-goyangkan badanku, tapi aku sudah terlalu lelah. Suara mereka teriak-teriak tidak jelas. Aku pilih tidur saja. Mereka tak berhenti teriak, goyangkan tubuhku, dan mulai menangis. Aku tak mengerti ah. Tidur saja. Sampai jumpa. Semoga besok masih hujan.

#
Dan esokpun tak hujan lagi. Bahkan esok tak pernah datang

image

Taken from Brillio.net

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s