Fictionary / Random

Menunggu Adil

Baju biru ini mulai pudar, terang saja, setiap hari kupakai tanpa pernah kucuci lagi. Terakhir kucuci mungkin…. Hm, tak begitu ingat aku. Sepertinya 1 bulan lalu. Atau 1,5 bulan? Tidak sampai 2 bulan sih. Aku ingat. Sebab 2 bulan lalu aku memakai baju merah.
Entah mengapa aku masih menanti saat adil akan datang. Dia berjanji akan datang. Janjinya pasti. Aku yakini itu. Dia tidak pernah ingkar janji (dia baru berjanji 1 kali). Biarlah aku tetap menanti di sini. Bersama baju biru lusuh ini.

Senja ini aku menatap seberkas sinar yang berbeda dari ujung laut, kupikir itulah kapal yang membawa adil. Sebab, kata orang adil selalu datang dengan kapal khusus. Sinarnya berbeda. Aku begitu semangat. Aku menggulung koran bekas 2 tahun lalu sehingga membentuk teropong agar dapat melihat kejauhan. Tidak berhasil. Sinar itu masih saja hanya sebesar titik sebesar bola pingpong.
Aku tak menyerah, aku mendekati pantai sampai garis terjauh yang diperbolehkan oleh konsensus adat desa ini. Kucoba lagi lihat dengan teropong koran buatanku tadi. Percuma ternyata, tetap kecil. Tak ada efeknya teropong itu ataupun usahaku mendekati pantai. Sinar itu tak bergerak. Aku seperti orang gila memanggil-manggil “ADIL ADIL, AKU DI SINI”. Sinar itu tak bergeming.

Suaraku mulai serak sampai akhirnya air mataku berlinang dan aku berlutut. Kupukuli air-air di pantai dan dengan sisa-sisa suaraku, aku menjerit dengan sekuat tenaga. “ADIL BRENGSEK! PEMBOHONG! PENDUSTA! KAU TAK PERNAH ADA! HANYA ILUSI!”

*
Tiga tahun berlalu menurut kalender masehi. Sejak kejadian sinar itu, aku tak mau lagi menunggu adil. Aku tahu adil hanyalah dongeng kacangan orang-orang desa ini agar aku tertipu dan bodoh. Makin aku menunggu, makin bodoh aku. Ditambah lagi bumbu-bumbu kapal dan lain-lain. Bodoh sekali aku. Kini aku sudah berkeluarga dan tak pernah ingat lagi pada adil.

Suatu malam, aku sedang lelap, mataku tiba-tiba terbuka. Seluruh kampung geger, berteriak-teriak, “Adil datang, adil datang!”. Aku keluar untuk melihat dan ternyata….

Lagi-lagi aku dibodohi orang sedesa. Mereka berkomplot.

Aku tak akan percaya lagi bahwa adil itu ada. Tidak mungkin ada adil di dunia nyata ini. Itu hanya dongeng belaka. Dongeng kacangan.

Ah, entahlah, tapi aku masih sedikit yakin kalau sejatinya, adil itu akan datang. Walau entah kapan. Tapi aku sedikit percaya itu. Semoga hidupku cukup panjang sampai datangnya adil.

image

Pixabay.com

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s