Reflection

Kangen pada Sepi

Gemerlap ibu kota kembali membawaku pada perasaan kesal karena terlalu ramai. Aku rindu pada desa kita yang sunyi. Memang, tak banyak hal di sana. Dan orang sering mengolok desa kita. Tapi kurasa desa itu… cukup. Tak lebih, tak kurang. 

Lagi-lagi aku meracau sambil memandang foto kita ketika berlumpur habis outbound 7 tahun lalu. Kita sama-sama baru pindah dari desa dan baru tahu kalau di kota ini main lumpur-lumpuran pun harus bayar. Padahal di desa kita, kita bebas memainkannya setiap hujan. Sungguh lucu. Haha. Aku ingat waktu itu kau bertanya, apa yang aku akan lakukan di Jakarta ini. Jawabku mantap dengan ego polos anak muda awal 20-an: “Jadi Bos!” sambil membusungkan dadaku dan melipat tangan di depannya. Tampak puas dan yakin sekali aku. Kau hanya terkekeh-kekeh sambil bilang: “Bosok!”. Kitapun tertawa makin lama makin kencang. Teman-teman dan pembimbing MT (Management Trainee) kitapun heran melihat tingkah kita berdua. 

Kini, aku sudah jadi manager. Wah, keren ya. Manager. Bisa dibilang bos juga itu. Walaupun anak buahku baru 10 orang. Tapi aku merasa tak puas. Aneh, padahal ini cita-cita aku yang kusombongkan padamu dulu. Banyak orang memanggilku “Pak” sambil sedikit menunduk tanda hormat. Sungguh ini yang dulu kuanggap keren. Ini yang dulu aku kejar. Aku juga bisa pergi ke berbagai kota dengan pesawat kelas bisnis. Ku percaya tak semua orang punya kesempatan sepertiku. Harusnya aku senang. Iya sih, aku senang tapi entah kenapa bukan senang seperti yang aku impikan dulu. Seperti yang kubilang tadi, aku merasa terlalu ramai. Ramai sekali. Aku merindukan sepinya desa kita kala malam. Hanya suara TV dan radio di beberapa rumah yang hidup ketika malam. Entahlah tapi itu saja dapat membuat kita bahagia ya. Kuyakin kau ingat masa itu.

Kini aku jadi sadar mengapa kamu 4 tahun lalu memilih kerja di kota kecil yang dekat desa kita saja. Saat itu aku sungguh heran. Kariermu begitu cemerlang ketika itu, kau lepaskan. Aku mendesakmu untuk tetap di sini, tapi kau hanya bilang: “Aku tak menemukan yang kucari di kota ini. Sulit mencarinya, lampu terlalu terang, suara terlalu bising, ruang terlalu ramai.” Aku hanya diam tak paham apa yang kau bicarakan. Hingga akhirnya kini kupaham juga maksudmu. 

“Pak, maaf, hari ini bapak ada 4 meeting. 15 menit lagi meeting dengan Pak Rinto. Jam 1 dengan Bu Sinta, Jam 3 dengan Pak Denny, Jam 7 dengan Agency” 

Sekretarisku membuyarkan khusuknya kerinduanku pada sepi. Bahkan saat aku sedang begitu menikmati kangenku pada sepi, lagi-lagi aku harus berhadapan pada ramai. Ramai, ramai dan ramai. 

Aku rindu kamu, sepi yang cukup dan pas. Sampai ketemu lagi, segera.

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s