Fictionary

Ujung

Langit tak mau bercanda malam ini. Air hujan ia muntahkan tanpa ampun ke bumi. Keras sekali hujan dan angin malam ini. Oh, tak lupa beberapa kali petir menemani. Harmoni alam tak mau diganggu suara lain tampaknya malam ini.

Di salah satu pojokan panggung meriahnya konser langit, aku berusaha melelapkan tubuh. Pikiran ini teringat pada kenangan terbaik saat hujan juga, bersamamu, teman. Kurang ajar memang otak kadang-kadang, saat aku ingin membuang memori tentang itu, malahan makin kuat memori itu. Sialan! 

***

Matamu merah teman. Kenapa?

Aku menangis.

Hah? Ada apa kau menangis?

Tak tahu. Suasana hujan di dataran setinggi ini sungguh mistis. Aku tak mampu mengambil kendali pada emosi dan memori yang aku mau rasakan dan ingat. Aku jadi seperti sebuah marionette yang hanya dikendalikan tanpa punya kuasa untuk melawan. 

Hm. Kamu sepertinya kurang makan. Tadi harusnya kau makan telur punyaku juga.

Ah tidak. Aku kenyang. Aku ingin bicara sesuatu padamu jadinya. Ini sering terpikir, tak pernah terucap.

Apa itu?

Kau baik. Sangat baik. Aku senang mengenalmu. Tapi juga sedih…

Sedih kenapa?

Jangan potong dulu. Aku sedih karena hanya bisa mengenalmu sejenak. Tak lama. Aku akan pergi segera. Kita baru saling mengenal dekat selama 5 bulan tapi kau begitu baik bagiku. Kuharap kau juga senang mengenalku. Selama 5 bulan ini, aku tak sabar setiap bangun untuk mendengar celoteh asalmu yang kadang betul, kadang… ah sudahlah. Aku sampai tak tahu lagi mana yang betulan mana yang hanya bualan. Kau memang kurang ajar. Tapi semua itu mencipta rindu. Rindu yang konsisten. Percayalah, walau kata itu tak terucap, tapi aku rindu kamu dalam perbuatanku dan pikiranku. Kini, aku hanya punya waktu 2 minggu. Setelah itu, mataku harus terpejam selama mungkin. Tak usah tanya kenapa. Aku tak ingin makin banyak yang tahu aku lemah. Tak juga kau. Cukup aku yang tahu dan alam ini yang selalu pintar menjaga rahasia. Awalnya aku juga tak ingin kau tahu bahkan untuk waktunya, tapi hujan, gunung, petir, dan angin mengalahkan kuasaku untuk sembunyi darimu, teman yang kurindu selalu.

Haaahh? Aku… tak tahu harus berkata apa…. (air mata mengalir deras dari mataku lalu matanya dan kami berpelukan lama tanpa kata dan tanpa peduli pada hujan atau apapun.)

***

Ah, sudahlah. Alam punya harmoninya sendiri yang magis dan misterius tapi selalu akan menjadi terbaik. Manusia? Tak perlulah sok tahu untuk menganalisis ini itu karena pada akhirnya hanya dugaan. Hanya alam yang sebenarnya paling paham dia mau apa, dalam sunyinya. Sedihku sudah lewat. Kini lebih baik aku menikmati apa yang alam suguhkan untukku. Layaknya menonton film atau membaca buku, ujung tak terduga selalu lebih indah, walau kadang ujung cerita tak selalu indah.

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s