Fictionary / Reflection

Hei Kau Manusia!

Manusia sering kali merasa hidupnya begitu berat. Penuh tekanan katanya. Andai bisa terbang bebas bagai burung. Menurut mereka, jadi burung di udara lebih enak. Manusia.

Mereka berpikir hanya dengan cara mereka berpikir, mentang-mentang punya akal budi. Seakan-akan hidup mereka sudah paling berat. Makhluk lain lebih mudah hidupnya. Oh, kadang mereka juga membandingkan dengan sesama mereka. Tak ada habisnya pikiran manusia yang tak pernah puas itu.

Padahal, kalau mereka mau berpikir sedikit saja, mereka adalah makhluk paling beruntung di muka bumi ini. Iya, beruntung dibandingkan ikan di lautan dalam atau burung di udara. Anda mereka mengerti. Kami, bangsa burung sebenarnya tak ingin dapat terbang kalau boleh. Kami setiap detik harus menghadapi tingginya tekanan udara dan tipisnya oksigen di atas sini. Daratan seperti surga bagi kami. Tekanan udara ringan, oksigen teratur. Itu adalah anugerah manusia. Mereka tak permah peduli itu. Yang ada di otaknya hanya mengeluh. Mereka lupa untuk bersyukur. 

Ah, baiklah. Tidak semua manusia demikian. Aku sering melihat juga manusia yang senang dalam hidupnya walau ia terus susah. Aku suka mengamati orang seperti itu. Membuat aku ingin bersyukur juga sebagai burung.

Diambil dari Bagikan.me

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s