Fictionary

Menjadi Bapak

Ayahku pergi pada suatu hari. Ia bilang… Ah, dia tidak bilang apa-apa. Hanya pergi ketika aku sedang asik bermain mobil-mobilan. Dia menyalakan mobil (betulan), lalu langsung pergi. Kupikir dia hanya pergi sesaat. Ternyata lama. Hingga kini. Dari aku 4 tahun, hingga 27 tahun. Lama sekali. 

Kejadian itu jadi begitu penting bagiku. Aku tak pernah menjumpanya atau bahkan mendengar suaranya. Saat kecil aku tak begitu paham. Aku hanya menangis karena ayah tak ada berarti tak ada mainan baru. Tapi saat mainan baru datang, aku sesaat lupa padanya. Ku akan ingat lagi waktu mulai bosan pada mainan. Saat remaja ku mulai sadar, aku agak berbeda dari teman lain. Ayahku tak ada.

Sederhana, hanya ada 1 yang kurang. Ternyata berdampak besar. Prestasiku mulai menurun di sekolah. Sikapku kasar pada siapapun. Aku ingat sekali, pada saat kelas 2 SMP aku pernah bangun dari bangku dan langsung meninju teman sekelasku hingga giginya patah hanya karena ia jahil melemparku dengan kertas. Dimarahi guru aku hanya diam. 1 pekan aku tak boleh masuk saat itu. Suatu kebanggaan dan kesenangan jadi jagoan bagiku saat itu. Di rumah, hubunganku dengan ibu juga tak terlalu baik. Demikian juga adikku. Hubungan kami dingin. Hanya interaksi seperlunya. Waktu itu, ku tak begitu paham mengapa aku bersikap begitu. Yang kutahu hanya, ayahku tak ada.

Menjadi pria dewasa yang menyimpan kemarahan dan kesedihan akan kehilangan ayah “secara sengaja” membuatku tak tahu bagaimana harus bersikap juga terhadap anakku. Aku sayang dia, tapi…. entahlah, aku seperti tak mampu bilang sayang. Senyumpun seperti dipaksakan padanya. Padahal aku ingin sekali memeluknya. Aneh sekali rasanya melihat diriku. Istriku pun tampak kesal dan kecewa karena aku tak bersikap seperti seorang ayah yang sayang anaknya. Bukan seperti itu sebenarnya yang kumau. Hanya saja, sosok dalam diri ini yang seperti tak mampu melakukan itu. 

Suatu sore, usiaku 33 tahun, anakku berusia 1 tahun 2 bulan, 9 hari. Aku sedang duduk di teras rumahku (yang adalah rumah ibuku juga), tiba-tiba ada sesosok bapak tua turun dari taksi hitam dan berjalan menuju ke rumahku. Dia bertanya, apa benar ini rumah ibuku. Aku bilang betul, aku memperkenalkan diri sebagai anaknya sambil bertanya dia siapa dan ada perlu apa.

“Kau anakku?”

Dia menyebut nama lengkapku dengan fasih dan bertanya apa aku anaknya… Aku terdiam sesaat lalu tak lama mulai secara refleks mundur perlahan-lahan. Aku yang jagoan dari SMP dan tak pernah menangis sekalipun, tak takut apapun, tiba-tiba meneteskan air mata. Sungguh. Aku meneteskan air mata. Perasaanku bercampur aduk. Aku belum mampu menjawab, tiba-tiba bapak itu berkata, 

“Maafkan bapak, ya nak. Bapak sudah salah. Maaf.”

Kami berdua berpelukan sambil menangis sekuat-kuatnya. Tak ada kata lagi yang kami ucapkan. Akupun masih bingung apa ini nyata, yang pasti ada rasa lega dan nyaman bersamanya. Seakan aku yang tadinya tak lengkap, jadi lengkap. Utuh. Karena ada ayah.

Aku tahu, dulu aku tak lengkap, kini sudah lengkap dan aku harus memastikan anakku selalu merasa lengkap juga…

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s