Fictionary / Reflection

Namaku

Sakti Matahari. Itu nama pemberian ayah dan ibuku sejak baru lahir. Mereka mengharap aku jadi kuat untuk selalu memberikan energi bagi sekitarku. Kata orang, nama itu doa. Harapan. Namanya juga harapan, selalu akan terbaik. Aku juga ingin memenuhi harapan mereka. Kalau mampu.

Kini aku hanya jadi pekerja kantoran biasa. Gajiku juga tak seberapa. Jangankan untuk memberikan energi bagi orang lain, memberikan energi untukku sendiri saja aku kadang kesulitan. Miris ya. Kadang aku ingin mengganti nama karena aku merasa nama ini kadang jadi beban. Akan tetapi, berpikir lagi akan besarnya biaya pengurusan dokumennya, aku jadi malas (atau takut). 

Hidupku yang biasa saja ini tak membuat orang tuaku berhenti menceritakan arti namaku setiap kami bertemu. Mereka masih punya harapan besar kalau aku akan menjadi seperti namaku. Bersinar dan kuat bagi orang lain. Apa lacur, sekali lagi, aku hanya begini saja. Masih luntang lantung memberesi hidup sendiri.

Temanku bilang aku aneh kalau membuat diri merasa terbeban hanya karena nama. Hidup bukan hanya soal nama, kalau kata mereka. Ya mereka mudah saja bilang begitu. Nama mereka dan hidup mereka sejalan. Sementara aku? Ya seperti tadi kuceritakan. Jadi sebenarnya nama itu penting ya. Kalau Shakespeare bilang “Apa arti sebuah nama?”. Dia belum tau bagaimana rasanya jadi aku.

Semua keresahan aku memuncak dan akhirnya aku cerita ke ibuku. Ibu yang selalu sabar menjawab semua pertanyaanku, dengan bijak. Aku bilang aku lelah membawa nama ini dengan segala maknanya. Aku merasa gagal. Ibuku tetaplah ibuku. Dia hanya tersenyum sambil menuangkan teh dari teko ke gelas di depanku. Dia mengulurkan tangan seperti mempersilakan aku minum dahulu setelah aku bercerita dengan penuh semangat tentang keresahanku. Setelah kuletakan gelasku, ini katanya:

Kau tahu Sakti, nama itu adalah doa. Dan doa adalah pengharapan. Harapan itu bisa terkabul langsung, bisa terkabul kemudian, bisa tak terkabul sama sekali. Ibu berdoa waktu memberimu nama agar kau setia pada pengharapan itu. Bukan pada apa yang akan terjadi padamu. Kalau kau tetap punya pengharapan, maka kau akan mengusahakan tercapainya harapan itu.

Selain itu, tak usah kau merendahkan diri dengan merasa tak berguna bagi orang lain. Kau pikir selama ini kehadiranmu tak penting untuk ayah dan ibu? Ayah dan ibu tak akan mampu hidup tanpamu, Sakti. Kau sudah sangat menjadi kekuatan yang menyinari keluarga ini. Ingat ya. 

Aku hanya bisa diam di luar. Di dalam diriku, aku merasakan energi positif, semangat hidup, pengharapan yang besar ingin meledak dan membuatku tahu aku berguna dan mampu. Pengharapan itu selalu ada. Aku merasa hidup lagi. Terima kasih ibu. 

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s