Fictionary

Bui

Dinding lagi. Dinding lagi. Tahanan teler habis memakai narkoba lagi. Itu lagi. Semua mata memandang, ya itu saja yang terlihat. Bosan juga lama-lama. Oh, bukan bosan. Muak mungkin lebih tepat. Siapa yang tak muak kalau begini terus berbulan-bulan. Masih ada 60 bulan lagi seperti ini – kalau masih hidup.

Kalau diingat sekitar 60 bulan yang lalu, ada bintang setiap malam. Ada suara jangkrik di luar kamar. Orkestra indah sawah belakang rumah. Semua sampai ketika seorang bajingan datang, mati tertusuk pada malam yang gelap. Polisi datang, diri terpenjara. Hingga kini. Ah, andai dia datang ke rumah belakang. Tapi sudahlah, hidup memang pemilih. Siapa yang mau dia datangi, itu yang dia datangi. Tanpa ada alasan.

Hampir tertidur di ruang sempit ini, tiba-tiba orang-orang madat yang ada di dalam membangunkan pelan, lalu PLAK! tamparan pertama. BUK! Tinju melayang di pipi kanan. Badan diangkat dan perut ditinju seperti samsak. Otak yang harusnya berpikir, seakan berhenti dan hanya ada kata sakit di kepala. Pukulan demi pukulan seperti estafet tanpa henti. Cepat, akurat, dan kuat pastinya. Ingin jatuh tapi ditahan 2 orang. Mereka puas, diri lemas.

Ini bukan kejadian pertama, kok. Minimal 3 bulan sekali – kalau beruntung. Kalau tidak ya bisa 1 bulan sekali. Sering. Hanya bisa diam dan pasrah. Lapor sipir juga tak beda, hanya menguatkan tinju, makin sakit. Diam adalah emas sangat tepat kali ini.

Tak usah lagi tanya arti hidup kini. Yang ada hanya bertahan hidup. Itu lebih dari cukup. Itu saja sudah berat, apalagi harus mencari arti hidup. Bisa mati duluan. Lebih baik makan sebanyaknya agar kuat saat jadi samsak.

*

Hidup memang aneh, suatu siang sipir tiba-tiba sangat baik. Diajaknya ke kantor. Diberi minum air mineral bermerk. Ulangi, bermerk terkenal. Oh, roti merk terkenal juga dipersilahkan untuk dihabiskan. Tentu otak curiga, tapi perut lapar tetap otomatis mengambil semuanya. Setelah selesai, sipir menitipkan buku. Bawa untuk penjenguk katanya. Ajaib. Hanya bawa buku untuk penjenguk, roti dan air mineral jadi sesajen.

Ini mulai jadi kebiasaan baru. Penjenguk tak dikenal, roti, air mineral, dan buku antah berantah. Semua jadi acara mingguan. Entah hari apa, tapi pasti ada. Oh, dan intensitas pemukulan berkurang. Sudah 1 bulan ini belum ada lagi. 

Suatu hari, buku itu tak sengaja terbuka. Bolong tengahnya, berisi sekantung. Pantas berat selama ini. Diri ini diam awalnya. Ikut alur permainan seperti biasa. Sial, malamnya tak bisa tidur. Idealisme bertarung dengan kesempatan hidup. Hidup memang aneh.

Entah sampai kapan ini terjadi. Ingin menikmati tapi tak nikmat-nikmat amat. Ingin menyerah tapi seperti tak pantas. Lagi-lagi, letakkan saja dulu badan ini selama masih bisa diletakkan. 

Untuk selesai, hanya ada semoga.

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s