Fictionary

(Tak Hanya) Diam

Kata orang, berbicara itu sulit. Buatku, itu bukan hanya kiasan, karena aku tuna wicara sejak lahir. Bukan tak ingin bicara, tapi memang aku tidak diijinkan untuk bicara sampe saat ini. Maaf bila bertemu aku dan aku hanya diam saja, bukan maksud sombong, tapi memang tak mampu. 

Hidup tanpa bicara ini unik rasanya. Aku dapat mendengar dengan jelas, tapi tak mampu menjawab dengan jelas. Terpaksa memakai isyarat atau kutulis. Untuk yang mau tahu rasanya, cobalah video call tapi kau menjawabnya dengan chatting. Tidak enak rasanya tentunya, tapi itu keunikanku. 

Aku bersekolah di sekolah inklusi. Banyak teman-temanku yang dapat bicara, tentunya mereka melihat aku jadi aneh. Beberapa bahkan tidak mau berteman denganku. Menurut mereka, aku aneh. Ada juga yang mengolok-ngolok aku. Berat sekali mengenang masa-masa itu. Aku memang tak dapat bicara, tapi aku tetap dapat berpikir seperti orang lain. Ekspresi emosikupun sama dengan yang lain. Ketika aku ditolak, aku jadi sedih, kecewa, kadang marah. Semuanya terpampang jelas di mukaku. Mukaku lebih ekspresif malahan. 

Ketika itu, aku hanya berpikir aku tak berguna. Dewasapun aku hanya akan menyusahkan. Jangankan bekerja, berkomunikasi saja sulit. Masa depanku pasti suram! Itu pikiranku ketika itu. Sungguh negatif dan pesimis. Entah sudah berapa banyak air mataku jatuh setiap ada penolakan dari teman-teman.

Suatu kala, kakakku yang selalu menyemangatiku pulang dari kampusnya sambil membawa sebuah majalah yang biasa ia bawa. Aku masih SMP kelas 2 kala itu. Aku sedang sebal-sebalnya dengan teman-temanku. Dia tiba-tiba memanggilku dan menunjukkan salah satu halaman dari majalah itu. 

Ini tentang Hellen Keller. Kau pernah dengar? Coba kau baca ya nanti. Dia adalah dosen, penulis, politisi. Uniknya, ia buta, tuli, bisu. Terbayang betapa sulitnya jadi dia? Aku percaya kau pasti paham. Apa dia menyerah? Kalau dia menyerah, tak mungkin namanya ada di majalah ini sekarang. Dia sangat gigih tanpa peduli apa kata orang. Yang dia peduli hanya bagaimana ia dapat belajar terus dan dapat berguna untuk orang lain. Kau baca ya.

Aku segera mengangguk dan membaca tentang Hellen Keller. Kebetulan itu edisi khusus Hellen Keller, jadi cukup banyak kisah tentang dia. Pelan-pelan aku baca, kata demi kata. Di akhir aku hanya bisa menangis terharu. Aku jadi malu karena masih suka mengeluh akan hidup ini padahal masih banyak yang mengalami hal lebih sulit dariku. Aku jadi bertanya-tanya, untuk segala kelebihanku, sudahkah aku bersyukur? 

Masa itu sudah lewat memang, tapi selalu menarik untuk diingat. Agar aku selalu kuat ketika penolakan atau ujian menemui untuk mencapai mimpi.

Selamat siang, prof. Besok karya Anda akan dapat membantu banyak tuna wicara agar dapat lebih mudah berkomunikasi. Terima kasih sudah berjuang membuat alat itu. Tentunya ini makin unik karena pembuatnya juga adalah seorang tuna wicara.

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s